Workaholic

for UrbanWoman.org  Januari 2013

Workaholic (3)r

Sumber: CBC.ca

 Di Jepang, negara dengan jumlah penduduk workaholic terbanyak di dunia, memiliki istilah sendiri, yaitu “karoshi”, secara literal berarti “death by work”. Berdasarkan survey sederhana, wanita workaholic masuk dalam daftar tipe wanita yang dihindari pria untuk dijadikan pasangan, karena pria tidak ingin keluarganya terbengkalai karena pekerjaan. Lalu, apa bedanya workaholic dengan hard-worker? Secara garis besar, hard-worker masih tetap menjaga keseimbangan hidup, sementara workaholic hidupnya terobsesi oleh pekerjaannya.

Sebelum lanjut, berikut 20 pernyataan, untuk mengetahui apakah seseorang workaholic atau bukan, dengan menjawab Setuju atau Tidak (Sumber: Workaholics-Anonymous.org).

  1. Lebih tertarik terhadap pekerjaan daripada keluarga atau hal-hal lain.
  2. Ada waktu-waktu tertentu sangat semangat melakukan pekerjaan sedangkan pada saat melakukan hal lain tidak bersemangat.
  3. Membawa pekerjaan ke rumah, bahkan tempat tidur, akhir pekan & liburan.
  4. Pekerjaan merupakan hal yang paling disukai dan sering dibicarakan.
  5. Bekerja lebih dari 40 jam seminggu.
  6. Melakukan hobi untuk menghasilkan uang.
  7. Bertanggung jawab penuh terhadap hasil pekerjaan.
  8. Keluarga dan teman-teman menyerah mengharapkan UrbanWoman memiliki waktu untuk mereka.
  9. Melakukan lebih banyak pekerjaan karena tidak yakin bahwa orang lain dapat menyelesaikannya dengan baik.
  10. Takut bahwa proyek yang sedang dikerjakan tidak selesai tepat waktu, sehingga tergesa-gesa mengerjakannya.
  11. Tidak apa-apa bekerja berjam-jam, jika menyukainya.
  12. Tidak sabar dengan orang-orang yang tidak menjadikan pekerjaan sebagai prioritas.
  13. Takut jika tidak bekerja keras akan kehilangan pekerjaan atau gagal.
  14. Selalu khawatir akan masa depan, walaupun segala sesuatunya berjalan dengan baik.
  15. Melakukan segala sesuatu dengan penuh semangat dan kompetitif, termasuk bermain.
  16. Merasa terganggu saat diminta berhenti bekerja untuk melakukan hal lain.
  17. Jam kerja yang panjang menyakiti keluarga dan orang-orang yang terkasih.
  18. Memikirkan tentang pekerjaan pada saat berkendara, tertidur atau saat orang lain sedang berbicara.
  19. Bekerja pada saat makan.
  20. Merasa yakin bahwa memiliki lebih banyak uang akan memecahkan masalah lain dalam hidup.

Jika setuju pada lebih dari 3 pernyataan di atas, bisa dikatakan termasuk seorang workaholic.

workaholic-r

Sumber: SheKnows.ca

Berikut ini kisah 3 orang wanita workaholic yang memiliki pengalaman berbeda-beda.

Susi, Perbankan

Susi, pernah menjadi seorang wanita yang workaholic. Penyebabnya? Tidak setuju dengan cara perusahaan tersebut yang mengagung-agungkan kemampuan bicara dan networking. Sementara Susi adalah tipe orang yang sedikit bicara dan lebih suka menunjukkan kinerjanya melalui hasil kerja.

Susi memaksakan dirinya untuk bekerja lebih karena ingin menujukkan pada perusahaan bahwa masih ada hal lain yang lebih penting daripada networking dan omong kosong, tujuannya untuk membuktikan bahwa point yang dimiliki dirinya justru lebih baik dan mendapatkan pengakuan dari management, selain itu juga karena tidak setuju dengan cara perusahaan menilai dan merekrut orang. Saat itu, Susi belum menyadari kalau dirinya adalah seorang workaholic. Saat menyadarinya, Susi mulai berpikir lebih luas, mengapa dirinya melakukan hal tersebut dan apa tujuannya, seperti siapa yang akan diuntungkan dari hasil kerjanya tersebut. Karena penyebab workaholic-nya masih seputar masalah kantor, Susi memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan tersebut, karena tidak dapat menghindari kerja lembur yang disebabkan oleh beban kerja yang terlalu banyak tapi tidak diimbangi dengan SDM yang memadai.

Kehidupannya pun jadi tidak seimbang, jarang bersosialisasi, karena waktu luang yang ada lebih banyak dihabiskan untuk keluarga dan dirinya sendiri, walaupun sebenarnya muncul perasaan bersalah saat menghabiskan waktu luang tidak untuk pekerjaan. Selain kehidupannya yang tidak seimbang, Susi juga mengalami masalah kesehatan, yaitu nyeri punggung, hal ini membuatnya tidak bisa duduk terlalu lama, sebenarnya nyeri punggung ini adalah penyakit lama tapi muncul lagi karena terlalu lama duduk selama bekerja di perusahaan tersebut.

Febriamy Hutapea, 30, Jurnalis

Berawal dari masalah, Febri memilih pekerjaan sebagai pengalih perhatiannya, selain karena mencintai pekerjaan tersebut, juga karena 1/3 dari waktunya dalam sehari dihabiskan di kantor/pekerjaan tersebut. Hidup harus terus berjalan, jadi lebih baik mengalihkan perhatian ke pekerjaan daripada terperangkap dalam masalah tersebut dan tidak bergairah menjalani hidup,. Walaupun saat bekerja, masih bisa kepikiran tiba-tiba atau waktu break, tapi bisa cepat teralihkan karena suasana kantor/pekerjaan yang membatasi untuk terus larut dalam masalah tersebut. Pelarian pada pekerjaan tidak dapat mengalihkan perhatian secara penuh, karena bagaimana pun, masalah tersebut tetap ada, menunggu untuk dihadapi dan diselesaikan. Pengalihan hanya membantu agar bisa terus menjalani hidup dengan lebih optimis. Ada kalanya, kehadiran teman atau melakukan hobi juga diperlukan untuk menghabiskan waktu setelah bekerja agar tidak memikirkan masalah tersebut. Tapi biasanya, kalau pulang kantor sudah capek, bisa langsung tidur.

Menurutnya, namanya masalah, tidak semuanya bisa langsung selesai gitu aja. Perlu ada proses dan kadang memang memerlukan waktu. Febri sendiri adalah orang yang menyukai proses, jadi pada saat mengalihkan perhatiannya dari masalah, bukan berarti tidak mau menghadapi masalah, tapi karena ada proses yang harus dijalani. Kadang alasan seseorang tidak mau menyelesaikan masalah karena keegoisannya atau ngga mau ngalah, seiring waktu yang berproses dapat membuat seseorang menjadi sadar.

Seiring dengan Febri yang mau berproses dengan waktu, masalah tersebut saat ini sudah semakin jauh lebih baik. All the best, Feb! 🙂

 

Farida Sutarman, 30, Brand Strategist

Berbeda dengan Susi dan Febri yang menjadi workaholic karena masalah, Farida menjadi workaholic karena mencintai pekerjaannya. Mulai dari gemar membuat greeting card waktu kecil yang mendapat banyak respond positif dari teman-temannya karena design dan kata-katanya yang dapat menggambarkan karakter masing-masing, membuat teman-temannya sering minta untuk dibuatkan customized card untuk orang yang berbeda. Moment ini yang membuat Farida sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melihat kualitas orang-orang di sekitarnya.

Hidup di industri media tidak pernah direncanakan sebelumnya, dengan minat yang sedikit Farida mulai bekerja dan belajar lebih banyak tentang periklanan. Sifatnya yang organized dan teliti me-manage orang membuatnya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan mudah di perusahaan media sebagai operational manager. Kemudian, dirinya bergabung di perusahaan advertising agency sebagai brand strategist, ternyata cocok dengan sifat yang dibangunnya dari hobi membuat greeting card. Mengidentifikasi kelebihan produk dan bagaimana cara mengirim pesan ke konsumennya, memberikan kesenangan tersendiri, sama seperti kesenangan yang didapat waktu membuat greeting card.

Ia baru sadar bahwa dirinya workaholic setelah teman-temannya terus-menerus memberitahu bahwa dia workaholic. Menurut Farida, workaholic adalah penilaian orang akan kelainan seseorang apabila orang tersebut bekerja terlalu lama, sama seperti orang yang suka main piano disebut pianist, orang yang suka biologi disebut dokter, orang yang suka nyumbang disebut philantrophist dan orang yang sering belanja baju untuk majikkannya bisa disebut shopaholic, sebenarnya semua itu adalah pekerjaan, sama seperti dirinya yang senang bekerja disebut workaholic oleh orang lain. Jadi, workaholic atau tidak bukan suatu kesadaran tapi berdasarkan seberapa jauh kelainan seseorang dari mayoritas karena banyaknya waktu yang dihabiskan di pekerjaan saja.

Jika pekerjaan sehari-hari terasa seperti hobi dan passion, tanggung jawab yang diterima terasa lebih menarik, bukan sebagai beban kerja tapi sumber kesenangan hidup, membuatnya selalu ingin segera bekerja kembali. Orang-orang seperti dirinya malah merasa tidak nyaman jika harus berhenti bekerja. Melanjutkan atau menghentikan “workaholic”? Ia memilih lanjut karena motivasi awalnya adalah hidup senang dengan melakukan sesuatu yang dicintai, jadi tidak mungkin kepikiran tentang berhenti atau lanjut. Suatu hari nanti, Farida ingin memiliki perusahaan media sendiri. Baginya, ada hal yang lebih penting dari kemapanan finansial, yaitu belajar hal baru dan bermanfaat bagi masyarakat. Farida menyukai travelling ke kota-kota seperti Tokyo atau London, untuk menjelajahi perkembangan media advertising disana, hmm, tetep ga lepas dari pekerjaan, yang penting bahagia J. Dirinya juga tidak terlalu memprioritaskan materi karena menurutnya kepuasan materi hanya sesaat, lama-lama bisa bosan..

Baginya, kesenangan dan kepuasan hidup merupakan ukuran dari keseimbangan hidup. Menilai keseimbangan seperti hitam dan putih sangat tidak berlaku di jaman sekarang. Farida merasa bahwa kehidupannya saat ini sangat seimbang, karena senang. Kecintaan pada pekerjaan yang membuat suasana hatinya lebih aktif dan bahagia, membuat hubungannya dengan keluarga dan teman-teman sangat dekat. Walaupun awalnya pernah dikomplen orang tua karena masih bekerja di hari Sabtu atau hari-hari libur nasional, tapi lama-lama mereka mengerti bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesenangan hidupnya. Hubungan dekatnya dengan keluarga, memang sudah dibangun dari dulu didukung dengan kecintaannya terhadap pekerjaan ini membuat hubungannya dengan keluarga semakin dekat.

Sosialisasi adalah kebutuhan hidup, semua manusia memerlukan dukungan mental dan pengakuan agar hidup lebih berarti. Bertemu banyak orang dengan latar belakang yang sama membuat dirinya merasa cukup beruntung, karena memiliki kesamaan sehingga membuat mereka lebih dapat mengerti tentang bidang pekerjaan yang digelutinya. Asik dengan pekerjaan tidak menghalangi Farida untuk tetap update dengan info terbaru, terutama trend campaign media terbaru.

Dari kisah ketiga wanita tersebut, workaholic atau tidaknya seseorang, kembali ke pribadi masing-masing, apakah menganggap dirinya workaholic atau tidak, apakah meyadari bahwa dirinya adalah workaholic atau tidak hingga ada yang memberitahu. Walaupun kebanyakan orang menjadi workaholic karena masalah tertentu dan memberikan efek buruk karena mengganggu keseimbangan hidup, ternyata hobi dan passion juga dapat membuat seseorang menjadi workaholic dan menjadikannya sebagai sumber kesenangan hidup tanpa harus merusak keseimbangan hidup, sehingga kesehatan dan hubungan baik dengan keluarga dan teman tetap terjaga.

Menjadi workaholic bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan. Setiap hal memiliki sisi baik dan buruk. Workaholic, kesenangan atau beban hidup? Silahkan menentukan. J

Happy working! 😉

@grcyrn

Advertisements

Buat Kita Kaum Perempuan

untuk UrbanWomen.org

Menjadi perempuan yang sudah cukup umur untuk menikah tapi belum merasa mantap untuk berkomitmen dan tetap memilih untuk stay single bukanlah hal mudah saat ini. Tekanan dari pihak keluarga besar dan tatapan sinis sebagian kalangan masyarakat di lingkungan kerja kadang cukup membuat pening kepala. Semakin besar rasanya kebutuhan akan support secara emosional untuk bisa tetap bertahan dari hari ke hari. Tapi untuk seusia saya, berpacaran seringkali sudah dianggap menjurus ke pernikahan, padahal jelas-jelas – karena pertimbangan pribadi-  saya belum mau menikah.

Suatu kali teman saya pernah menyinggung soal FWB alias friend with benefits, menjalin hubungan demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, pada umumnya yang menyangkut love, affection dan materi. ‘Rule’-nya, antara lain, dilarang gampang sakit hati kalau hubungan tiba-tiba/otomatis/serta merta berakhir, dilarang berpikir  bahwa kedua pihak wajib terus mempertahankan komitmen ‘FWB’-nya, dilarang menuntut hal-hal lebih dari ‘sekedar’ FWB,  dilarang menjalin FWB dengan niat mencari pacar –karena FWB justru ada untuk mereka yang tidak berniat untuk berpacaran – dan lain-lain yang intinya hubungan ini selalu punya exit door yang terbuka tanpa bisa menuntut tanggungjawab atas konsekuensi yang bisa terjadi akibat FWB ini.

Ternyata banyak juga disekeliling saya yang menjalin hubungan FWB ini. Hubungan mereka bukannya tanpa status, tapi statusnya ‘hanya’ teman, dan harus memberi keuntungan sesuai yang kita inginkan. Prinsipnya, hubungan keterikatan antar ‘teman’ itu dasarnya adalah keuntungan yang didapat, bukan komitmen atau tanggungjawab sebagai teman yang baik dan tidak memanfaatkan orang demi keuntungan pribadi. Jadi, FWB ini meskipun ada yang disepakati bersama, sesungguhnya penilaiannya tergantung masing-masing pribadi karena tidak ada komitmen antara keduanya.

Sempat terpikir rasanya bagus juga punya FWB, bisa men-support kita dan membuat hidup kita ebih enjoy dengan hubungan pertemanan yang lebih intim dari biasanya. Maklum, saja, sebagaimana kita ketahui, keintiman adalah salah satu sumber kebahagiaan.  Hmm,  I think i can handle this. Pikir saya, okay, let’s search for the right guy for this relationship….

Tapi akhirnya tidak terjadi. Alasannya, menemukan partner FWB sesuai kriteria saya ternyata tidak mudah. Maklum, memang dari sananya selera saya agak njlimet, menemukan yang cocok tapi hanya sebatas FWB rasanya lebih sulit daripada menemukan yang cocok dan berniat untuk menikah. Tapi justru itu kan pertimbangan saya untuk FWB.

Dan setelah saya pikir lebih lagi,  saya juga tidak rela kalau diri saya  mendapat perlakuan yang sama, yaitu hanya dimanfaatkan untuk bisa mendapatkan keuntungan tertentu bagi orang lain.

Sempat juga terpikir kenapa saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang tampaknya baik-baik saja dengan ‘status’ FWB mereka. Kesimpulan saya, orang mungkin saja  tampaknya seperti punya situasi yang sama, tetapi keunikan masing-masing pribadi dan  nilai-nilai yang kita percayai satu sama lain jelas berbeda. Ada orang yang bersedia kompromi demi mendapatkan sesuatu, ada juga yang tidak.  Jadi ketika ada orang yang kelihatan enjoy dengan FWB mereka, bukan berarti semua orang mengalami hal yang sama.

Dalam pertemanan pun FWB seringkali terjadi. Disadari atau tidak, kadang kita menjalin pertemanan karena ingin mendapat keuntungan tertentu, misalnya demi keuntungan materi , demi mendapatkan relasi, memperoleh status sosial tertentu atau keuntungan spesifik lainnya. Dan ketika teman kita tidak lagi dapat memberikan keuntungan yang kita harapkan, atau kita mendapat ‘teman’ yang lebih menguntungkan, serta merta hubungan pertemanan akan berakhir. Perbedaannya antara mereka yang dari awal berteman dengan tujuan untuk mendapat keuntungan dengan mereka yang sejalan dengan pertemanannya kemudian mendapat keuntungan dari pertemanan tersebut sepenuhnya terletak pada perasaan yang tulus dalam pertemanan. Pertemanan yang tulus pada dasarnya tidak menghitung untung rugi  dan tidak bersiasat dalam pikiran kita untuk mendapat keuntungan tertentu atau memanfaatkan teman kita tanpa mereka sadari.

Orang yang berteman demi benefit atau keuntungan tertentu, seringkali juga tidak memiliki empati dengan keadaan atau masalah yang sedang dihadapi temannya. Dia akan cermat berhitung atas keuntungan yang didapat dan meminimalisir untuk terlibat secara emosional apabila tidak memberikan keuntungan apapun baginya.

 

Awalnya saya berpikir bahwa hubungan FWB dalam pertemanan ini  sepertinya tidak pas  untuk perempuan yang biasanya mengedepankan perasaan yang tulus dalam bersahabat , sebagaimana sebuah semangat sisterhood  yang kuat.

Tetapi sepertinya saya keliru karena justru perasaan perempuan seperti inilah yang dimanfaatkan mereka – baik lawan jenis atau sesama perempuan – untuk menjalin hubungan yang mengedepankan keuntungan untuk diri sendiri  alias FWB. Berbeda dengan kaum pria yang punya ‘dunia’-nya sendiri yaitu dirinya sendiri dan pencapaian alias kesuksesannya, dunia perempuan adalah dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya tempatnya berbagi rasa, kebahagiaan dan keindahan Maka ketika seorang perempuan mendapati dirinya di tengah persahabatan yang sarat dengan mencari keuntungan pribadi, tidak seperti yang ia harapkan, somehow  it will destroye her beautiful world. Seberapa parah kehancurannya, tergantung seberapa banyak ia telah berbagi perasaan dengan orang tersebut. Itulah ‘harga’ dari sebuah FWB dalam pertemanan. Rasanya tidak sebanding dengan pertemanan yang tulus dan saling support dalam sisterhood yang menyenangkan sebagai sesama perempuan.

Kembali lagi ke situasi saya di awal sebagai perempuan single , dengan menimbang semua pertimbangan, saya menyimpulan bahwa FWB bukan solusi untuk situasi saya saat ini karena justru menimbulkan konflik dalam batin yang tidak mudah dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan yang saya percayai selama ini.

Saya  setuju dengan Gibran yang mengatakan bahwa ,”Friendship is a sweet responsibility, never an opportunity.”

Membangun suatu hubungan adalah sebuah tanggungjawab yang mulia, tidak pernah sebagai  sebuah peluang. Menjalin hubungan pertemanan, berpacaran atau menikah, adalah bertanggungjawab untuk ada bagi satu sama lain untuk memberikan support yang diharakan sesuai komitmen yang dibangun pada tiap tingkatan hubungan tersebut.

Menjalin hubungan itu baik, tetapi  tidak selalu menjadi solusi yang tepat demi untuk mendapatkan support dari luar atas masalah yang kita hadapi sehari-hari.  Solusi atas hal itu sesungguhnya didapat dengan  mempertimbangkannya dengan  keyakinan kita masing-masing dan menggunakan rasio untuk melakukan apa yang dirasa benar dan sesuai hati nuarni.

FWB hanyalah sebuah  alternatif sementara untuk love life dan sebuah keakraban  yang sarat dengan tujuan tanpa ketulusan dan empati dalam sebuah friendship . Lebih dari FWB, the real benefits buat saya adalah  menemukan  pasangan atau sahabat yang tetap menerima kita apa adanya dan berkomitmen untuk tetap bersama-sama dengan kita dalam suka maupun duka.

And i do believe that good things will come for those who believe in the the goodness of life for our love life and friendship. At the right time, with the right person, and in the right way.

 

(Cecile T.)