Buat Kita Kaum Perempuan

untuk UrbanWomen.org

Menjadi perempuan yang sudah cukup umur untuk menikah tapi belum merasa mantap untuk berkomitmen dan tetap memilih untuk stay single bukanlah hal mudah saat ini. Tekanan dari pihak keluarga besar dan tatapan sinis sebagian kalangan masyarakat di lingkungan kerja kadang cukup membuat pening kepala. Semakin besar rasanya kebutuhan akan support secara emosional untuk bisa tetap bertahan dari hari ke hari. Tapi untuk seusia saya, berpacaran seringkali sudah dianggap menjurus ke pernikahan, padahal jelas-jelas – karena pertimbangan pribadi-  saya belum mau menikah.

Suatu kali teman saya pernah menyinggung soal FWB alias friend with benefits, menjalin hubungan demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, pada umumnya yang menyangkut love, affection dan materi. ‘Rule’-nya, antara lain, dilarang gampang sakit hati kalau hubungan tiba-tiba/otomatis/serta merta berakhir, dilarang berpikir  bahwa kedua pihak wajib terus mempertahankan komitmen ‘FWB’-nya, dilarang menuntut hal-hal lebih dari ‘sekedar’ FWB,  dilarang menjalin FWB dengan niat mencari pacar –karena FWB justru ada untuk mereka yang tidak berniat untuk berpacaran – dan lain-lain yang intinya hubungan ini selalu punya exit door yang terbuka tanpa bisa menuntut tanggungjawab atas konsekuensi yang bisa terjadi akibat FWB ini.

Ternyata banyak juga disekeliling saya yang menjalin hubungan FWB ini. Hubungan mereka bukannya tanpa status, tapi statusnya ‘hanya’ teman, dan harus memberi keuntungan sesuai yang kita inginkan. Prinsipnya, hubungan keterikatan antar ‘teman’ itu dasarnya adalah keuntungan yang didapat, bukan komitmen atau tanggungjawab sebagai teman yang baik dan tidak memanfaatkan orang demi keuntungan pribadi. Jadi, FWB ini meskipun ada yang disepakati bersama, sesungguhnya penilaiannya tergantung masing-masing pribadi karena tidak ada komitmen antara keduanya.

Sempat terpikir rasanya bagus juga punya FWB, bisa men-support kita dan membuat hidup kita ebih enjoy dengan hubungan pertemanan yang lebih intim dari biasanya. Maklum, saja, sebagaimana kita ketahui, keintiman adalah salah satu sumber kebahagiaan.  Hmm,  I think i can handle this. Pikir saya, okay, let’s search for the right guy for this relationship….

Tapi akhirnya tidak terjadi. Alasannya, menemukan partner FWB sesuai kriteria saya ternyata tidak mudah. Maklum, memang dari sananya selera saya agak njlimet, menemukan yang cocok tapi hanya sebatas FWB rasanya lebih sulit daripada menemukan yang cocok dan berniat untuk menikah. Tapi justru itu kan pertimbangan saya untuk FWB.

Dan setelah saya pikir lebih lagi,  saya juga tidak rela kalau diri saya  mendapat perlakuan yang sama, yaitu hanya dimanfaatkan untuk bisa mendapatkan keuntungan tertentu bagi orang lain.

Sempat juga terpikir kenapa saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang tampaknya baik-baik saja dengan ‘status’ FWB mereka. Kesimpulan saya, orang mungkin saja  tampaknya seperti punya situasi yang sama, tetapi keunikan masing-masing pribadi dan  nilai-nilai yang kita percayai satu sama lain jelas berbeda. Ada orang yang bersedia kompromi demi mendapatkan sesuatu, ada juga yang tidak.  Jadi ketika ada orang yang kelihatan enjoy dengan FWB mereka, bukan berarti semua orang mengalami hal yang sama.

Dalam pertemanan pun FWB seringkali terjadi. Disadari atau tidak, kadang kita menjalin pertemanan karena ingin mendapat keuntungan tertentu, misalnya demi keuntungan materi , demi mendapatkan relasi, memperoleh status sosial tertentu atau keuntungan spesifik lainnya. Dan ketika teman kita tidak lagi dapat memberikan keuntungan yang kita harapkan, atau kita mendapat ‘teman’ yang lebih menguntungkan, serta merta hubungan pertemanan akan berakhir. Perbedaannya antara mereka yang dari awal berteman dengan tujuan untuk mendapat keuntungan dengan mereka yang sejalan dengan pertemanannya kemudian mendapat keuntungan dari pertemanan tersebut sepenuhnya terletak pada perasaan yang tulus dalam pertemanan. Pertemanan yang tulus pada dasarnya tidak menghitung untung rugi  dan tidak bersiasat dalam pikiran kita untuk mendapat keuntungan tertentu atau memanfaatkan teman kita tanpa mereka sadari.

Orang yang berteman demi benefit atau keuntungan tertentu, seringkali juga tidak memiliki empati dengan keadaan atau masalah yang sedang dihadapi temannya. Dia akan cermat berhitung atas keuntungan yang didapat dan meminimalisir untuk terlibat secara emosional apabila tidak memberikan keuntungan apapun baginya.

 

Awalnya saya berpikir bahwa hubungan FWB dalam pertemanan ini  sepertinya tidak pas  untuk perempuan yang biasanya mengedepankan perasaan yang tulus dalam bersahabat , sebagaimana sebuah semangat sisterhood  yang kuat.

Tetapi sepertinya saya keliru karena justru perasaan perempuan seperti inilah yang dimanfaatkan mereka – baik lawan jenis atau sesama perempuan – untuk menjalin hubungan yang mengedepankan keuntungan untuk diri sendiri  alias FWB. Berbeda dengan kaum pria yang punya ‘dunia’-nya sendiri yaitu dirinya sendiri dan pencapaian alias kesuksesannya, dunia perempuan adalah dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya tempatnya berbagi rasa, kebahagiaan dan keindahan Maka ketika seorang perempuan mendapati dirinya di tengah persahabatan yang sarat dengan mencari keuntungan pribadi, tidak seperti yang ia harapkan, somehow  it will destroye her beautiful world. Seberapa parah kehancurannya, tergantung seberapa banyak ia telah berbagi perasaan dengan orang tersebut. Itulah ‘harga’ dari sebuah FWB dalam pertemanan. Rasanya tidak sebanding dengan pertemanan yang tulus dan saling support dalam sisterhood yang menyenangkan sebagai sesama perempuan.

Kembali lagi ke situasi saya di awal sebagai perempuan single , dengan menimbang semua pertimbangan, saya menyimpulan bahwa FWB bukan solusi untuk situasi saya saat ini karena justru menimbulkan konflik dalam batin yang tidak mudah dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan yang saya percayai selama ini.

Saya  setuju dengan Gibran yang mengatakan bahwa ,”Friendship is a sweet responsibility, never an opportunity.”

Membangun suatu hubungan adalah sebuah tanggungjawab yang mulia, tidak pernah sebagai  sebuah peluang. Menjalin hubungan pertemanan, berpacaran atau menikah, adalah bertanggungjawab untuk ada bagi satu sama lain untuk memberikan support yang diharakan sesuai komitmen yang dibangun pada tiap tingkatan hubungan tersebut.

Menjalin hubungan itu baik, tetapi  tidak selalu menjadi solusi yang tepat demi untuk mendapatkan support dari luar atas masalah yang kita hadapi sehari-hari.  Solusi atas hal itu sesungguhnya didapat dengan  mempertimbangkannya dengan  keyakinan kita masing-masing dan menggunakan rasio untuk melakukan apa yang dirasa benar dan sesuai hati nuarni.

FWB hanyalah sebuah  alternatif sementara untuk love life dan sebuah keakraban  yang sarat dengan tujuan tanpa ketulusan dan empati dalam sebuah friendship . Lebih dari FWB, the real benefits buat saya adalah  menemukan  pasangan atau sahabat yang tetap menerima kita apa adanya dan berkomitmen untuk tetap bersama-sama dengan kita dalam suka maupun duka.

And i do believe that good things will come for those who believe in the the goodness of life for our love life and friendship. At the right time, with the right person, and in the right way.

 

(Cecile T.)

Advertisements

Dimanfaatin? Manfaatin Balik Donk!

untuk  UrbanWomen.org

Biasanya dalam sebuah hubungan Friends with Benefits, akan ada rasa sakit hati, entah dari salah satu pihak atau keduanya, karena didalamnya ada asas manfaat. Nah untuk pihak yang ngerasa dirugikan karena dimanfaatkan, daripada kelamaan sakit hati ato kesel karena uda dimanfaatkan, lebih baik cari cara bagaimana memanfaatkan keadaan yang ada itu untuk membuat diri jadi lebih baik.

 “Enak aja ngarepin dia biar sukses! Mana bisa begitu, udah manfaatin, bikin sakit juga, terus sekarang musti berharap supaya hal baik terjadi sama dia? Ga rela!”

Kira-kira begitu kalimat atau pemikiran yang akan muncul kalau seseorang diminta untuk mengharapkan hal baik terjadi pada seseorang yang udah nyakitin, bener ga? Hayo ngaku! Sebagian besar manusia akan memberikan reaksi seperti itu, termasuk Saya. Sepertinya ga adil, kalau orang yang sudah nyakitin dan manfaatin Saya diharapkan bisa sukses, yang ada Saya malah ngarepin supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu.

Dimanfaatkan seseorang dalam konotasi negatif memang ga enak, maunya ngebales, atau kalau pun ga ngebaes langsung, berharap supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu. Sedangkan kalau ada orang yang berbuat baik, manusia cenderung akan membalasnya dengan kebaikkan.

 

Apa yang Terjadi Setelah Dimanfaatkan Seseorang?

Setelah dimanfaatkan seseorang habis-habisan, kebanyakan manusia akan terpuruk dalam lembah penyesalan, kemarahan, dan kesedihan, terus mikirin gimana ngebalesnya dengan cara yang lebih kejam. Jika sampai hal ini terjadi, yang pasti rugi adalah diri sendiri, mulai dari ga focus sama kerjaan, nafsu makan bertambah atau berkurang sehingga mengganggu bentuk tubuh, pengaruhnya ke kesehatan, parahnya lagi kalau sampe sakit hati, bisa menyebabkan kanker.

Ga mau kan gara-gara satu orang yang nyakitin, malah kena penyakit kanker atau penyakit berat lainnya, rugi! Kalau sampe ini kejadian, artinya, orang yang manfaatinnya sukses banget! Uda berhasil manfaatin, terus berhasil bikin susah juga.

Sudah biasa terjadi, jahat dibalas dengan jahat, baik dibalas dengan baik. Yang luar biasa itu kalau jahat dibalas dengan baik. Setelah dimanfaatkan habis-habisan, tapi masih bisa mengharapkan hal baik terjadi pada orang itu, bisa ga? Tergantung dari cara pikir kita J.

 

Revenge Elegantly

Jangan mau kalah, kalau memang sudah dimanfaatin, ini saatnya untuk balas dendam secara anggun, revenge elegantly! Segera bangkit, jangan kelamaan bersedih, kasih batas waktu mau sedihnya sampe tanggal berapa, jam berapa. Setelah itu? Pikirin gimana caranya memanfaatkan kejadian tersebut supaya bisa berguna buat diri sendiri. Misalnya, supaya kejadian yang sama ga terulang, cari tau kenapa waktu itu bisa sampe dimanfaatin seperti itu. Setelah itu, pelajari ciri-cirinya kalau orang lagi mau manfaatin.

Tunjukkin ke orang tersebut, bahwa walaupun sudah sempat dimanfaatkan dan sakit, tapi justru tidak membuat makin terpuruk. Susun strategi! Susun strategi supaya bisa manfaatin balik. Lho koq? Berarti ini sama aja jahat bales jahat? Nooo, bukan itu maksudnya. Manfaatin balik di sini bukan berarti manfaatin orangnya, tapi memanfaatkan situasi yang ada untuk belajar supaya bisa jadi lebih baik, balas dendam dengan anggun.

Daripada cape-cape mikirin gimana caranya ngebales orang itu supaya bisa merasakan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari yang sudah dialami, lebih baik mikir gimana caranya supaya kejadian yang sama ga keulang lagi.

Daripada membiarkan diri kelamaan terpuruk dalam lembah penyesalan terus sakit, lebih baik ambil tindakan untuk bangkit, jadi bisa nunjukkin ke orang tersebut bahwa “Saya baik-baik saja tuh, walaupun sempat dimanfaatkan habis-habisan, tapi lihat sekarang, justru sekarang Saya jauh lebih baik, terima kasih yah *senyum manis*”

Daripada kelamaan sakit hati, lebih baik memaafkan. Tau ga, menurut penelitian para ahli, sakit hati itu bisa menyebabkan kanker, rugi kan, kalau orang yang nyakitin tersebut sehat, berkeliaran dengan aman dan baik-baik aja, terlepas dia sengaja atau ngga, malah diri sendiri yang kena kanker. Lebih baik memaafkan, biar tetep sehat. Paling ga, orang tersebut ga sukses sukses banget, terus bisa bilang ke orangnya, “Yuhuu! Kamu ga berhasil manfaatin Saya secara total, karena dari kejadian itu Saya belajar untuk bisa memaafkan. Thanks yah!” *wink*

Daripada membiarkan penampilan jadi tidak terawat dan kesehatan menurun karena nyesel abis-abisan udah dimanfaatin, lebih baik perbaiki penampilan supaya lebih menarik misalnya rubah penampilan, make-up, cara berpakaian, olah raga dan makan makanan sehat. “See! Saya jadi makin menarik, cantik, sehat dan sukses!”

 

Setelah “Memanfaatkan Balik”, Apa?

Memaafkan

Wah, sulit ini memaafkan, tapi percaya deh, ga ada ruginya koq memaafkan, malah baik untuk kesehatan. Berikut beberapa hasil reset yang menujukkan hubungan antara memaafkan dengan kesehatan[1]:

“Pekerjaan awal program ini menunjukkan bahwa pengampunan menurunkan hormon stres kortisol yang pada gilirannya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, tapi hanya jika pasien memaafkan yang mereka salahkan”. [Universitas Maryland [Institut Virologi Manusia]

“Memaafkan bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi produksi hormon stres kortisol” [Rockefeller University – New York]

“Ketika Anda memegang kepahitan selama bertahun-tahun, ia menghentikan Anda untuk hidup sepenuhnya. Ternyata, hal itu menghabiskan sistem kekebalan tubuhmu dan menyakiti jantungmu” [Stanford University Pusat Penelitian Pencegahan Penyakit]

“Mereka yang menerima pelatihan pengampunan menunjukkan perbaikan dalam aliran darah ke jantung mereka” [University of Wisconsin – Penelitian Departemen]

Sebuah studi baru dari Duke University Medical Center menunjukkan bahwa mereka yang memaafkan orang lain mengalami tingkat sakit kronis yang lebih rendah dan masalah psikologis, seperti kemarahan dan depresi, yang lebih rendah, daripada mereka yang belum memaafkan.

Para peneliti di Ohio Amerika University menemukan bahwa wanita dengan tingkat stres tinggi memiliki sel-sel pembunuh alami lebih sedikit daripada wanita dengan tingkat stres yang lebih rendah. “Sel pembunuh alami memiliki fungsi sangat penting berkaitan dengan kanker karena mereka mampu mendeteksi dan membunuh sel kanker. Intervensi psikologis, seperti pengampunan, memiliki peran penting dalam mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga dalam memperluas kelangsungan hidup..” [Barbara Andersen, Profesor Psikologi, Ohio State University]

“Saya telah mengumpulkan 57 dokumentasi keajaiban kanker yang sangat baik. Mereka memutuskan bahwa kemarahan dan depresi itu mungkin bukan cara terbaik untuk dijalani, karena mereka tidak punya banyak waktu yang tersisa. Mereka berubah menjadi pengasih, penyayang, tidak lagi marah, tidak lagi tertekan, dan dapat berbicara dengan orang yang mereka cintai. 57 orang ini memiliki pola yang sama. Mereka menyerahkan kemarahan mereka secara total dan mereka menyerahkan secara total depresi mereka, sebuah keputusan spesial. Dan pada saat itu tumor mulai menyusut. ” [Yale Medical School – Dr Bernie Seigel, Profesor Klinik Bedah]

“Ketika saya menyarankan penyembuhan emosional untuk penderita kanker, mereka selalu salah paham. Mereka mendengarnya sebagai dukungan emosional. Mereka berpikir saya hanya ingin menghibur mereka, atau menunjukkan kepada mereka untuk memiliki sikap yang lebih positif. Mereka tidak mengerti bahwa pengampunan mungkin menjadi kunci untuk membuat mereka sembuh. Saya melihat mata mereka berkaca-kaca ketika saya pergi dengan mengatakan bahwa racun emosional kemungkinan besar penyebab kanker mereka. Dan pengampunan itu, jika digunakan dengan perawatan yang tepat dan perubahan gaya hidup dengan tujuan perubahan fisik, adalah pengobatan utama. Ketidakmampuan mereka untuk mendengar ini sebagai strategi untuk bertahan hidup, adalah ukuran bagaimana kita telah dicuci otak sehingga berpikir bahwa pengobatan untuk kanker harus selalu keras, drastis dan kejam. Dengan pola pikir Perang-terhadap-Kanker, sulit untuk membayangkan bahwa sesuatu yang tampaknya lemah lembut seperti pengampunan bisa menjadi jawaban untuk masalah kita. ” [Colin Tipping, Direktur, Institut Pengampunan Radikal]

Mengharapkan Hal-hal Baik Terjadi Untuk Orang Tersebut

Yang ini juga ga kalah sulitnya sama memaafkan, bahkan lebih sulit, mana bisa begitu, ga adil donk! Enak banget, setelah memanfaatkan dan meyakiti, eh masih diharapin supaya hal-hal baik terjadi sama orang tersebut. Sebenernya ga ada untungnya juga untuk diri sendiri kalau sampe hal-hal buruk terjadi pada orang tersebut, hanya kepuasan sesaat, bener ga? Kalau masih mengharapkan hal-hal buruk terjadi pada orang tersebut, artinya memaafkannya belum bener-bener, mau gara-gara ga memaafkan jadi sakit parah? :p

Supaya bisa lebih mudah, ga bilang gampang, tapi lebih mudah, karena memang ini ga gampang, pikirin aja gini, “Orang-orang yang ada sekarang dan pernah ada di jalur hidup Saya, yang baik maupun yang jahat, merupakan bagian dari rencanaNya untuk membuat Saya jadi lebih baik. So, thanks God for putting them on my path, terutama untuk orang-orang yang jahatnya, karena justru mereka itu menciptakan pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan, berharga dan membuat Saya jadi lebih baik.”

So?! Manfaatin balik setelah dimanfaatin? Kenapa ngga 😉

That don’t kill me, can only make me stronger!

Kanye West – Stronger