Have a Little Faith by Mitch Albom

for UrbanWomen.org Januari 2013

“… Ketika bayi lahir ke dunia, tangannya mengepal, bukan? Seperti ini?”

Ia mengepalkan tangannya.

“Mengapa? Karena bayi, ingin menggenggam apa pun untuk mengatakan, ‘Seluruh dunia ini milikku.’”

“Lalu ketika seseorang yang sudah tua meninggal, bagaiman ia mati? Dengan tangan terbuka. Mengapa? Karena ia telah mendapat pelajaran itu”

Pelajaran apakah itu? tanyaku.

Ia merentangkan jarinya lebar-lebar.

“Kita tidak dapat membawa serta apa pun.”

HaveALittleFinal

Buku Have a Little Faith, Sumber: MitchAlbom.com

 Demikian salah satu cuplikan dari buku Have a Little Faith karya Mitchel David ‘Mitch’ Albom, jurnalis di bidang olah raga, berdasarkan pengalaman pribadinya. Merupakan buku non-fiksi keduanya.

Have_a_Little_Faith-1r

Diawali dengan permintaan seorang seorang pemuka agama yang dihormati dan disegani, Rabi Albert Lewis, untuk menyampaikan eulogi di hari kematiannya. Permintaan ini, membuat Mitch perlu mengenal sosok Albert Lewis lebih dekat, tidak hanya sebagai pemuka agama, tapi juga sebagai sahabat. Banyak pelajaran yang didapat dari sini. Bukan hanya tentang kematian dan bagaimana menghadapinya, tapi juga kehidupan dan bagaimana menjalani serta menghargai hidup supaya bisa lebih bersyukur setiap waktu. Dibarengi kisah-kisah pertemuan Mitch dengan Henry Covington, Afro-Amerika yang ketagihan narkoba, dipenjara, bertobat lalu terlibat lagi dalam jual beli narkoba karena godaan keuangan dan berjanji tidak akan menggunakannya, tapi lagi-lagi karena godaan keuangan, menggunakannya lagi. Hingga suatu malam, Henry sangat ketakutan akan kematian, akhirnya bertobat dan hingga sekarang mengabdikan diri untuk melayani orang-orang di lingkungan sekitarnya. Dimulai dengan fasilitas yang cukup nyaman hingga akhirnya melayani dengan fasilitas seadanya, bahkan dapat dikatakan sangat kurang; atap bocor dan mesin pemanas yang tidak berfungsi dengan baik di musim dingin.

Have_a_little_faith-2r

Kisah kehidupan 2 orang mengagumkan yang sangat berbeda, Albert Lewis dan Henry Covington; Yahudi dan Kristiani, kulit putih dan Afrika-Amerika, ekonomis yang mencukupi dan miskin, Mitch memperhatikan bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut memiliki hal yang sama, IMAN untuk bertahan hidup dan menghadapi kematian. Iman? Semua orang mengenal kata ini, semua orang tau bahwa saat hidup terasa “mentok” iman diperlukan, hampir semua orang tau bahwa iman merupakan hal yang sangat penting untuk membuat seseorang tetap hidup, tapi bagaimana cara untuk mengaktifkan dan menggunakannya? Kehidupan Albert Lewis dan Henry Covington yang tercatat pada buku ini menunjukkan caranya, jawaban untuk setiap pertanyaan-pertanyaan kehidupan mengenai kegagalan, kemanusiaan, keluarga, pernikahan, sahabat, kehilangan, menghargai, menghormati, komitmen, melayani, kesehatan, mengucap syukur dan perbedaan, bagaimana bertahan di masa-masa sulit, apa itu surga, meragukan Tuhan, dan pentingnya iman di masa-masa sulit. Walaupun memiliki latar belakang dan cara berdoa yang berbeda, tapi iman membuat keduanya memiliki kesamaan. Pada akhirnya Albom menyadari kedua orang tersebut telah mengajarkan hal-hal berharga pada dirinya, kenyamanan yang mendalam tentang mempercayai sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Have a Little Faith adalah buku tentang tujuan hidup, tentang kehilangan keyakinan dan menemukan lagi, tentang kehadiran Tuhan dalam diri manusia. It is one man’s journey, but it is everyone’s story. 

Buku ini indah!

Have a Little Faith berada di urutan pertama dalam daftar Times Bestseller New York dan terpilih sebagai the Best Nonfiction Book of 2009 oleh Oprah.com.

 

@grcyrn

Advertisements

Workaholic

for UrbanWoman.org  Januari 2013

Workaholic (3)r

Sumber: CBC.ca

 Di Jepang, negara dengan jumlah penduduk workaholic terbanyak di dunia, memiliki istilah sendiri, yaitu “karoshi”, secara literal berarti “death by work”. Berdasarkan survey sederhana, wanita workaholic masuk dalam daftar tipe wanita yang dihindari pria untuk dijadikan pasangan, karena pria tidak ingin keluarganya terbengkalai karena pekerjaan. Lalu, apa bedanya workaholic dengan hard-worker? Secara garis besar, hard-worker masih tetap menjaga keseimbangan hidup, sementara workaholic hidupnya terobsesi oleh pekerjaannya.

Sebelum lanjut, berikut 20 pernyataan, untuk mengetahui apakah seseorang workaholic atau bukan, dengan menjawab Setuju atau Tidak (Sumber: Workaholics-Anonymous.org).

  1. Lebih tertarik terhadap pekerjaan daripada keluarga atau hal-hal lain.
  2. Ada waktu-waktu tertentu sangat semangat melakukan pekerjaan sedangkan pada saat melakukan hal lain tidak bersemangat.
  3. Membawa pekerjaan ke rumah, bahkan tempat tidur, akhir pekan & liburan.
  4. Pekerjaan merupakan hal yang paling disukai dan sering dibicarakan.
  5. Bekerja lebih dari 40 jam seminggu.
  6. Melakukan hobi untuk menghasilkan uang.
  7. Bertanggung jawab penuh terhadap hasil pekerjaan.
  8. Keluarga dan teman-teman menyerah mengharapkan UrbanWoman memiliki waktu untuk mereka.
  9. Melakukan lebih banyak pekerjaan karena tidak yakin bahwa orang lain dapat menyelesaikannya dengan baik.
  10. Takut bahwa proyek yang sedang dikerjakan tidak selesai tepat waktu, sehingga tergesa-gesa mengerjakannya.
  11. Tidak apa-apa bekerja berjam-jam, jika menyukainya.
  12. Tidak sabar dengan orang-orang yang tidak menjadikan pekerjaan sebagai prioritas.
  13. Takut jika tidak bekerja keras akan kehilangan pekerjaan atau gagal.
  14. Selalu khawatir akan masa depan, walaupun segala sesuatunya berjalan dengan baik.
  15. Melakukan segala sesuatu dengan penuh semangat dan kompetitif, termasuk bermain.
  16. Merasa terganggu saat diminta berhenti bekerja untuk melakukan hal lain.
  17. Jam kerja yang panjang menyakiti keluarga dan orang-orang yang terkasih.
  18. Memikirkan tentang pekerjaan pada saat berkendara, tertidur atau saat orang lain sedang berbicara.
  19. Bekerja pada saat makan.
  20. Merasa yakin bahwa memiliki lebih banyak uang akan memecahkan masalah lain dalam hidup.

Jika setuju pada lebih dari 3 pernyataan di atas, bisa dikatakan termasuk seorang workaholic.

workaholic-r

Sumber: SheKnows.ca

Berikut ini kisah 3 orang wanita workaholic yang memiliki pengalaman berbeda-beda.

Susi, Perbankan

Susi, pernah menjadi seorang wanita yang workaholic. Penyebabnya? Tidak setuju dengan cara perusahaan tersebut yang mengagung-agungkan kemampuan bicara dan networking. Sementara Susi adalah tipe orang yang sedikit bicara dan lebih suka menunjukkan kinerjanya melalui hasil kerja.

Susi memaksakan dirinya untuk bekerja lebih karena ingin menujukkan pada perusahaan bahwa masih ada hal lain yang lebih penting daripada networking dan omong kosong, tujuannya untuk membuktikan bahwa point yang dimiliki dirinya justru lebih baik dan mendapatkan pengakuan dari management, selain itu juga karena tidak setuju dengan cara perusahaan menilai dan merekrut orang. Saat itu, Susi belum menyadari kalau dirinya adalah seorang workaholic. Saat menyadarinya, Susi mulai berpikir lebih luas, mengapa dirinya melakukan hal tersebut dan apa tujuannya, seperti siapa yang akan diuntungkan dari hasil kerjanya tersebut. Karena penyebab workaholic-nya masih seputar masalah kantor, Susi memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan tersebut, karena tidak dapat menghindari kerja lembur yang disebabkan oleh beban kerja yang terlalu banyak tapi tidak diimbangi dengan SDM yang memadai.

Kehidupannya pun jadi tidak seimbang, jarang bersosialisasi, karena waktu luang yang ada lebih banyak dihabiskan untuk keluarga dan dirinya sendiri, walaupun sebenarnya muncul perasaan bersalah saat menghabiskan waktu luang tidak untuk pekerjaan. Selain kehidupannya yang tidak seimbang, Susi juga mengalami masalah kesehatan, yaitu nyeri punggung, hal ini membuatnya tidak bisa duduk terlalu lama, sebenarnya nyeri punggung ini adalah penyakit lama tapi muncul lagi karena terlalu lama duduk selama bekerja di perusahaan tersebut.

Febriamy Hutapea, 30, Jurnalis

Berawal dari masalah, Febri memilih pekerjaan sebagai pengalih perhatiannya, selain karena mencintai pekerjaan tersebut, juga karena 1/3 dari waktunya dalam sehari dihabiskan di kantor/pekerjaan tersebut. Hidup harus terus berjalan, jadi lebih baik mengalihkan perhatian ke pekerjaan daripada terperangkap dalam masalah tersebut dan tidak bergairah menjalani hidup,. Walaupun saat bekerja, masih bisa kepikiran tiba-tiba atau waktu break, tapi bisa cepat teralihkan karena suasana kantor/pekerjaan yang membatasi untuk terus larut dalam masalah tersebut. Pelarian pada pekerjaan tidak dapat mengalihkan perhatian secara penuh, karena bagaimana pun, masalah tersebut tetap ada, menunggu untuk dihadapi dan diselesaikan. Pengalihan hanya membantu agar bisa terus menjalani hidup dengan lebih optimis. Ada kalanya, kehadiran teman atau melakukan hobi juga diperlukan untuk menghabiskan waktu setelah bekerja agar tidak memikirkan masalah tersebut. Tapi biasanya, kalau pulang kantor sudah capek, bisa langsung tidur.

Menurutnya, namanya masalah, tidak semuanya bisa langsung selesai gitu aja. Perlu ada proses dan kadang memang memerlukan waktu. Febri sendiri adalah orang yang menyukai proses, jadi pada saat mengalihkan perhatiannya dari masalah, bukan berarti tidak mau menghadapi masalah, tapi karena ada proses yang harus dijalani. Kadang alasan seseorang tidak mau menyelesaikan masalah karena keegoisannya atau ngga mau ngalah, seiring waktu yang berproses dapat membuat seseorang menjadi sadar.

Seiring dengan Febri yang mau berproses dengan waktu, masalah tersebut saat ini sudah semakin jauh lebih baik. All the best, Feb! 🙂

 

Farida Sutarman, 30, Brand Strategist

Berbeda dengan Susi dan Febri yang menjadi workaholic karena masalah, Farida menjadi workaholic karena mencintai pekerjaannya. Mulai dari gemar membuat greeting card waktu kecil yang mendapat banyak respond positif dari teman-temannya karena design dan kata-katanya yang dapat menggambarkan karakter masing-masing, membuat teman-temannya sering minta untuk dibuatkan customized card untuk orang yang berbeda. Moment ini yang membuat Farida sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melihat kualitas orang-orang di sekitarnya.

Hidup di industri media tidak pernah direncanakan sebelumnya, dengan minat yang sedikit Farida mulai bekerja dan belajar lebih banyak tentang periklanan. Sifatnya yang organized dan teliti me-manage orang membuatnya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan mudah di perusahaan media sebagai operational manager. Kemudian, dirinya bergabung di perusahaan advertising agency sebagai brand strategist, ternyata cocok dengan sifat yang dibangunnya dari hobi membuat greeting card. Mengidentifikasi kelebihan produk dan bagaimana cara mengirim pesan ke konsumennya, memberikan kesenangan tersendiri, sama seperti kesenangan yang didapat waktu membuat greeting card.

Ia baru sadar bahwa dirinya workaholic setelah teman-temannya terus-menerus memberitahu bahwa dia workaholic. Menurut Farida, workaholic adalah penilaian orang akan kelainan seseorang apabila orang tersebut bekerja terlalu lama, sama seperti orang yang suka main piano disebut pianist, orang yang suka biologi disebut dokter, orang yang suka nyumbang disebut philantrophist dan orang yang sering belanja baju untuk majikkannya bisa disebut shopaholic, sebenarnya semua itu adalah pekerjaan, sama seperti dirinya yang senang bekerja disebut workaholic oleh orang lain. Jadi, workaholic atau tidak bukan suatu kesadaran tapi berdasarkan seberapa jauh kelainan seseorang dari mayoritas karena banyaknya waktu yang dihabiskan di pekerjaan saja.

Jika pekerjaan sehari-hari terasa seperti hobi dan passion, tanggung jawab yang diterima terasa lebih menarik, bukan sebagai beban kerja tapi sumber kesenangan hidup, membuatnya selalu ingin segera bekerja kembali. Orang-orang seperti dirinya malah merasa tidak nyaman jika harus berhenti bekerja. Melanjutkan atau menghentikan “workaholic”? Ia memilih lanjut karena motivasi awalnya adalah hidup senang dengan melakukan sesuatu yang dicintai, jadi tidak mungkin kepikiran tentang berhenti atau lanjut. Suatu hari nanti, Farida ingin memiliki perusahaan media sendiri. Baginya, ada hal yang lebih penting dari kemapanan finansial, yaitu belajar hal baru dan bermanfaat bagi masyarakat. Farida menyukai travelling ke kota-kota seperti Tokyo atau London, untuk menjelajahi perkembangan media advertising disana, hmm, tetep ga lepas dari pekerjaan, yang penting bahagia J. Dirinya juga tidak terlalu memprioritaskan materi karena menurutnya kepuasan materi hanya sesaat, lama-lama bisa bosan..

Baginya, kesenangan dan kepuasan hidup merupakan ukuran dari keseimbangan hidup. Menilai keseimbangan seperti hitam dan putih sangat tidak berlaku di jaman sekarang. Farida merasa bahwa kehidupannya saat ini sangat seimbang, karena senang. Kecintaan pada pekerjaan yang membuat suasana hatinya lebih aktif dan bahagia, membuat hubungannya dengan keluarga dan teman-teman sangat dekat. Walaupun awalnya pernah dikomplen orang tua karena masih bekerja di hari Sabtu atau hari-hari libur nasional, tapi lama-lama mereka mengerti bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesenangan hidupnya. Hubungan dekatnya dengan keluarga, memang sudah dibangun dari dulu didukung dengan kecintaannya terhadap pekerjaan ini membuat hubungannya dengan keluarga semakin dekat.

Sosialisasi adalah kebutuhan hidup, semua manusia memerlukan dukungan mental dan pengakuan agar hidup lebih berarti. Bertemu banyak orang dengan latar belakang yang sama membuat dirinya merasa cukup beruntung, karena memiliki kesamaan sehingga membuat mereka lebih dapat mengerti tentang bidang pekerjaan yang digelutinya. Asik dengan pekerjaan tidak menghalangi Farida untuk tetap update dengan info terbaru, terutama trend campaign media terbaru.

Dari kisah ketiga wanita tersebut, workaholic atau tidaknya seseorang, kembali ke pribadi masing-masing, apakah menganggap dirinya workaholic atau tidak, apakah meyadari bahwa dirinya adalah workaholic atau tidak hingga ada yang memberitahu. Walaupun kebanyakan orang menjadi workaholic karena masalah tertentu dan memberikan efek buruk karena mengganggu keseimbangan hidup, ternyata hobi dan passion juga dapat membuat seseorang menjadi workaholic dan menjadikannya sebagai sumber kesenangan hidup tanpa harus merusak keseimbangan hidup, sehingga kesehatan dan hubungan baik dengan keluarga dan teman tetap terjaga.

Menjadi workaholic bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan. Setiap hal memiliki sisi baik dan buruk. Workaholic, kesenangan atau beban hidup? Silahkan menentukan. J

Happy working! 😉

@grcyrn

White Lie

for UrbanWoman.org

unpleasant-truths-comforting-lies

Berbohong untuk kebaikan, sebagian orang menganggap sah, agar tidak ada pihak yang dirugikan, sebagian orang lagi menganggap bohong ya bohong, entah untuk alasan apa pun. Orang paling jujur sedunia pun pasti pernah melakukan hal ini, sadar ngga sadar. Bagaimana jika UrbanWoman yang menjadi korban white lie? Muncul perasaan marah dan kecewa karena sudah dibohongi, berbagai prasangka muncul, kemudian bisa jadi merusak hubungan baik dengan orang tersebut.

White lie atau berbohong untuk kebaikan, istilah inisudah digunakan paling tidak sejak tahun 1700an. Pertama kali muncul tahun 1741 di Oxford English Dictionary, saat pertentangan antara white lie dan black lie diuji. Mengapa menggunakan warna putih untuk menunjukkan kebohongan yang dianggap ‘lebih baik’dibandingkan kejujuran? Putih selalu menjadi warna untuk kepolosan, keadilan, kebaikan dan kemurnian. Istilah white lie dirasa lebih tepat untuk memisahkannya dari ‘kebohongan yang sebenarnya’ yang dianggap kejam, jahat, menyakitkan dan berbahaya.

KENAPA MELAKUKAN WHITE LIE?

when-women-say-they-will-be-ready-in-5-minutes-1352196112

Tujuan utama white lie adalah supaya tidak ada pihak yang tersakiti sehingga hubungan baik tetap terjalin, lalu mengapa seseorang tetap melakukan white lie? Berikut beberapa white lie yang sering dilakukan dan alasannya:

  1. Bukan saya! – Karena tidak ingin memperpanjang masalah dan terlibat lebih jauh.
  2. 5 menit lagi! – Padahal sebenarnya masih lama, tapi karena ngga enak sama yang nungguin jadi bilangnya 5 menit lagi
  3. Oh, iya sih. – Karena malas berdebat lebih lanjut.
  4. Terima kasih! Suka deh sama hadiahnya! – Ngga enak kalau terus terang bilang ngga suka sama hadiahnya
  5. Iya, bajunya bagus. – Bajunya yang bagus, bukan berarti kamu cocok pakai baju itu lho J
  6. Oh, Saya ngga liat  ada rambu itu Pak! – Pura-pura tidak lihat rambu lalu lintas tersebut rasanya lebih baik daripada ngaku terus terang sengaja melanggar karena akan terkesan arogan.
  7. Iya, sebentar lagi mau ngerjain yang itu!Ngga enak kalau terus terang bilang, masih harus ngerjain 10 hal lain sebelum ngerjain kamu punya.
  8. Iya, tadi malem Saya sama dia. – That’s what friends do, tujuannya untuk menyelamatkan teman, iya dulu, baru nanti tanya langsung ke orangnya,  “Tadi malem ke mana?” ;p
  9. eMail-nya udah dikirim koq. – Padahal sebenarnya lupa kirim atau karena ada hal lain yang dianggap lebih penting jadinya tertunda terus, dan pada saat ditanyakan, baru langsung dikirim deh emailnya.

 

BAIKNYA?

believe-lie-text-Favim.com-187499

Sumber: Splendid.Blogspot.com

1.       White Lie Can Save One’s Life, Giving People Hope For The Future.

Kisah nyata tentang seorang ibu yang menderita gagal ginjal dan akan segera meninggal jika tidak mendapatkan donor ginjal yang tepat. Anak tertuanya ingin mendonorkan ginjalnya, namun dilarang karena sang ibu sangat mencintai anaknya ini, sehingga lebih memilih meninggal daripada harus menyusahkan anaknya. Jadi yang dapat dilakukan saat itu adalah menunggu hingga ada pendonor ginjal yang tepat. Sayangnya, setelah menunggu sekian lama, tetap tidak mendapatkan ginjal yang tepat, padahal keadaan sang ibu semakin parah. Anak tertuanya, tidak bisa tinggal diam, dan memutuskan mendonorkan ginjalnya untuk sang ibu diam-diam. Setelah operasi sukses, keluarga tetap tidak mengatakan bahwa ginjal tersebut berasal dari anaknya yang saat itu terbaring di kamar sebelah sang ibu. Saat sang ibu ingin bertemu anaknya, keluarga mengatakan bahwa anaknya sedang melakukan perjalanan bisnis. Kenyataannya, sang ibu berhasil dikelabui anak dan seluruh keluarganya, sehingga sang ibu bisa tetap hidup.

2.      Magical Power Of White Lie

White lie dapat menginspirasi seseorang untuk tidak menyerah dan terus berusaha mewujudkan impian mereka. Sehingga orang tersebut memiliki semangat dan kehidupan mereka menjadi semakin baik. Berikut kisah nyata lainnya yang menunjukkan bahwa white lie dapat membuat seseorang memiliki semangat untuk mewujudkan impiannya.

Seorang pelajar tidak mampu melakukan lari jarak jauh, namun diberitahukan bahwa ia berlari lebih cepat dari pelajar lainnya. Selain itu, juga diberitahukan bahwa ia memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam beberapa pertandingan penting untuk mewakili sekolahnya. Agar dapat mewujudkannya, yang diperlukan adalah berlatih keras. Gurunya tersebut melakukan white lie agar si pelajar bersemangat. Pelajar tersebut sangat semangat setelah mendengar kata-kata gurunya. Sejak saat itu, pelajar ini jadi sangat menyukai lari jarak jauh dan berlatih setiap hari. Yang mengejutkan semua orang, pelajar tersebut terpilih sebagai wakil dari sekolahnya untuk berpartisipasi dalam sebuah kompetisi penting antar sekolah.

3.      White Lies Make Life Harmonious

Pada saat orang tua memiliki perasaan yang tidak enak atau sedang bertengkar dengan pasangannya (suami/istri), mereka akan menutupi hal ini dari anak-anaknya, agar kehidupan anak-anaknya tidak terganggu dan khawatir dengan pertengkaran kedua orangtuanya.

 

BURUKNYA?

Liar!

Sumber: FreshElement.com

1. Dicap Pembohong

Dengan tujuan apa pun, bohon adalah bohong, ada kebenaran yang disembunyikan, tidak mengatakan yang sebenarnya. Sekali tertangkap berbohong, walaupun maksudnya berbohong untuk kebaikkan, akan sulit bagi orang lain untuk bisa mempercayai lagi, malah bisa dicap sebagai pembohong seumur hidup. Karena nila setitik rusak susu sebelangga.

2.      Stress

Sekali berbohong, berarti akan ada hal lain yang harus ditutupi dengen kebohongan berikutnya, supaya kebohongan sebelumnya ngga ketauan. Diperlukan ingatan yang sangat baik, supaya tidak ada yang tau bahwa sedang berbohong. Lama-lama, hidup cuma dipake buat nginget, “waktu itubohong apa yah?” untuk menjaga kebohongan-kebohongan supaya tidak ketauan. Capek? Pasti. Serapat-rapatnya ikan busuk ditutupi, pasti akan tercium juga baunya.

3. Memberikan Harapan Palsu, Lebih Menyakitkan

Sederhananya, UrbanWoman sedang memerlukan komentar jujur tentang penampilan untuk menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat, sehingga memerlukan pendapat pasangan. UrbanWoman terlihat terlalu exciting dengan penampilan saat itu. Hal ini membuat pasangan tidak mau mengeluarkan komentar sebenarnya yang membuat down dengan mengatakan, “Penampilan kamu buruk,” sehingga pasangan hanya mengatakan, “Kamu luar biasa! (luar biasa aneh maksudnya:p)” Saat tiba di pesta pernikahan, semua mata memandang, bukan karena penampilan yang luar biasa cantik, tapi luar biasa aneh. Bagaimana perasaan UrbanWoman jika berada dalam situasi tersebut?

4. Masalah Kesehatan

Pada temuan awal para peneliti dari University of Notre Dame yang meneliti 110 peserta dengan rentang usia 18 s/d 71 tahun, pria dan wanita, terdiri dari beberapa etnis dengan berbagai tingkat pendapatan, mereka diminta untuk berhenti mengatakan kebohongan baik besar maupun kecil selama 10 minggu. Control Group tidak diberikan instruksi apa pun tentang berbohong. Sementara pada No-lie Group, mereka diminta untuk 3x lebih sedikit mengatakan white lie dibanding minggu-minggu lainnya, hasilnya keluhan-keluhan mereka akan sakit kepala, sakit tenggorokkan, ketegangan, kecemasan dan masalah-masalah lainnya lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang berada di Control Group.

“Bukti terbaru menunjukkan bahwa rata-rata orang Amerika berbohong sekitar 11 kali per minggu,” tutur peneliti utama Anita E. Kelly pada press release terbaru. “Kami menemukan bahwa para peserta dapat dengan sengaja dan dramatis mengurangi kebohongan mereka setiap hari, dan hal ini berhubungan dengan kesehatan mereka yang meningkat secara siginifikan.” Sumber: NYDailyNews.com

Jadi, hubungan antara kebohongan dengan kesehatan yang buruk terlihat jelas. Mengatakan lebih sedikit kebohongan dalam seminggu sama baiknya dengan memakan sepiring penuh makanan sehat dan antioxidant!

 

Setelah mengetahui penyebab, baik dan buruknya white lie, berikut beberapa pernyataan untuk ditanggapi dengan ‘Setuju’ atau ‘Tidak’:

  1. Seorang atlet sedang persiapan bertanding di Olimpiade. Sementara itu, ayahnya meninggal tiba-tiba. Keluarganya memutuskan untuk memberitahukan berita duka ini setelah si atlet menyelesaikan pertandingannya. Saat berbicara di telephone, si atlet ingin berbicara dengan ayahnya, sang kakak mengatakan bahwa ayahnya sedang tidur. Setuju/Tidak?
  2. Seorang wanita sedang tugas ke luar negri bersama dengan rekan kerja prianya. Mereka melakukan hubungan sexual, dan segera menyadari bahwa tindakan tersebut salah besar. Tunangan si wanita sadar ada yang tidak beres, kemudian bertanya kepada si wanita apakah terjadi sesuatu selama mereka dinas ke luar kota. Karena tidak ingin menyakiti perasaan tunangannya, si wanita menjawab tidak. Setuju/tidak?
  3. Sedang mengalami hari yang buruk dan tidak ingin membahasnya. Seorang kenalan menanyakan kabar, lalu dijawab, “baik” kemudian mengganti topik pembicaraan. Setuju/tidak?
  4. Oma memberikan hadiah buku kepada Billy di hari ulang tahunnya. Billy lebih menyukai mainan dibandingkan buku. Ibu Billy mengajarkan untuk bersikap sopan dengan mengatakan. “Terima kasih Oma, bukunya keren!” Setuju/Tidak?
  5. Pada saat bertamu ke rumah seseorang disajikan champagne yang tidak dingin dan kue kering melempem. Namun demikian, tamu tersebut mengatakan, “Terima kasih, hidangannya enak”. Setuju/Tidak?
  6. Seseorang mengiyakan undangan makan malam dengan temannya, namun kemudian membatalkannya dengan alasan sakit sehingga tidak bisa datang. Padahal sebenarnya ingin melakukan sesuatu yang lebih menarik. Setuju/Tidak?
  7. Terlambat hadir di meeting dengan alasan susah cari taksi, padahal sebenarnya terlalu lama ngobrol dengan seorang teman. Setuju/Tidak?

aaa

Sumber: http://blog.lib.umn.edu

Kebanyakan orang akan berkata, “Gapapa deh bohong demi kebaikan, daripada malah jadi makin rumit.” Yuk simak pembahasan dari nomor 1 s/d 7 🙂

  1. Berbohong tentang kematian seseorang sangat tidak disarankan, karena kematian adalah hal serius. Tujuan keluarganya memang baik, agar si atlet bisa konsentrasi dengan pertandingannya, tapi caranya salah. Bagaimana jika si atlet tidak memenangkan pertandingan? Atau justru ingin mempersembahkan kemenangannya ini untuk sang ayah? Bayangkan betapa kecewa, sedih dan mungkin marah pada saat si atlet mengetahui bahwa ternyata ayahnya sudah meninggal pada saat dirinya sedang melakukan persiapan pertandingan.
  2. Berbohong tentang ketidaksetiaan tidak dapat dikatakan sebagai white lie. Tujuan si wanita adalah untuk menjaga perasaan tunangannya, sekaligus takut pertunangannya akan putus. Bagaimana perasaan tunagannya jika akhirnya mengetahui bahwa pasangannya pernah selingkuh? Sebelum berbohong, posisikan diri UrbanWoman di posisi orang yang akan dibohongi dan coba bayangkan apa rekasi dari orang yang dibohongi tersebut.
  3. Bisa jadi, pertanyaan “Apa kabar?” tersebut hanya pertanyaan basa-basi, jadi sebenarnya bisa saja menjawab “Baik”, karena hari yang buruk bukan berarti seluruh diri Anda buruk bukan? Lagipula, biasanya pertanyaan “apa kabar” tidak memerlukan jawaban yang lengkap. Konsekuensi dari menjawab “Baik”, berarti jangan mengharapkan orang tersebut akan memberikan perhatian lebih terhadap kondisi UrbanWoman yang sedang tidak baik.
  4. Me-respond pemberian yang tidak disukai? Sebenarnya, dengan menjawab, “Terima kasih Oma”, sudah cukup. Tambahan, “Bukunya keren!” bisa jadi, kedepannya Oma akan memberikan hadiah berupa buku lagi.
  5. Untuk hidangan yang dianggap kurang layak, cukup dengan mengatakan “Terima kasih atas hidangannya”, selesai, jadi tidak harus berbohong.
  6. Sebelum membatalkan janji dengan seseorang, pertimbangkan juga perasaannya saat itu, posisikan diri UrbanWoman sebagai orang yang mengundang, bagaimana rasanya jika sudah menyiapkan segala sesuatu, tiba-tiba dibatalkan. Memberikan alasan sakit untuk tidak menghadiri undangan makan malam tersebut mungkin lebih baik daripada mengatakan bahwa UrbanWoman lebih tertarik untuk melakukan hal lain. Tapi coba bayangkan, jika ternyata teman tersebut mengetahui bahwa UrbanWoman sebenarnya tidak sakit, tapi sedang melakukan kegiatan lain yang dianggap lebih menarik. Pasti teman UrbanWoman akan merasa sedih dan kecewa, selanjutnya, UrbanWoman bisa dicap sebagai pembohong, buruk-buruknya, kejadian ini akan diceritakan ke orang lain dan mungkin ditambah dengan ‘bumbu penyedap’.
  7. Terlambat menghadiri meeting memang sering terjadi, kemudian memberikan alasan susah cari taksi, jalanan macet atau kendaraan mogok. Tapi, kenapa harus bohong, seharusnya, jika sudah tau ada meeting, dapat mengatur waktu lebih baik lagi.

Pernyataan-pernyataan di atas merupakan kejadian-kejadian yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan jawaban atau pernyataan yang tepat tanpa harus berbohong tapi tetap bisa menjaga hubungan baik dengan orang lain merupakan hal penting, tapi tentunya jawaban yang diberikan juga harus diikuti dengan tindakan yang tepat, agar selaras dengan tindakan.

 

Seorang teman, Wanda, sudah menjalin hubungan dengan seorang pria sekitar 2 tahun dan sudah merencanakan pernikahan. Selama 2 tahun tersebut, setiap kali bertemu, handphone si pria pasti mati total, karena ingin menjaga privasi sebagai pasangan. Wanda seneng banget, karena artinya pasangannya tersebut benar-benar ingin memiliki quality time untuk hubungan tersebut. Suatu saat, si pria salah kirim pesan yang isinya sex chat. Dari situ Wanda tau bahwa ternyata alasan si pria mematikan total HPnya, bukan karena ingin memiliki quality time, tapi supaya Wanda tidak tau pembicaraan apa saja yang terjadi di handphone dan menurut si pria, sah-sah aja sex chat hingga nanti sudah menikah baru have the real sex. Ini merupakan contoh nyata bahwa white lie itu manis di awal namun berakhir tragis.

White lie? Kembali kepada UrbanWoman bagaimana mengatur agar tetap bisa bersikap jujur dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Underneath a white lie is a black truth. ~Robert D. Dangoor

@grcyrn

Pacaran Dengan yang Akan Cerai

for UrbanWoman.org Januari 2013

lonely-married-man

Sumber: MarriedAndDating.com

Pacaran dengan pria yang akan cerai? Dipiki-pikir, kan udah mau cerai, jadi bukan Saya penyebab perceraian mereka, memang mereka sudah mau cerai dari dulu. Sepintas, terlihat ngga masalah. Tapi apa bener ga masalah? Banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan untuk benar-benar memutuskan mau pacaran dengan orang yang baru akan cerai.

KENAPA MAU?

Kenapa sampai mau pacaran dengan pria yang akan cerai? Sebenarnya sama saja seperti pacaran dengan pria beristri, hanya katanya “akan cerai”, tapi apa bener mau cerai? Sudah benar-benar sedang mengurus proses perceraiannya? Atau hanya ucapan supaya si wanita mau jadi yang kedua, selingan, padahal sebenarnya tidak ada rencana untuk bercerai. Kalau saat ini sedang menjalani hubungan dengan pria beristri yang akan bercerai, coba bayangkan bagaimana perasaan si istri, saat keadaan rumah tangga kacau dan hampir cerai, tiba-tiba muncul wanita lain yang justru membuat masalah makin rumit.

Berikut beberapa alasan kenapa memutuskan berpacaran dengan yang akan cerai:

1. Kan Udah Mau Cerai

Kan udah mau cerai, jadi ngga masalah, yang penting bukan Saya penyebab perceraian mereka”, mungkin ini yang pertama kali muncul, bukan penyebab utama perceraian mereka, tapi menjadi salah satu faktor yang memperkuat alasan mereka untuk bercerai. Padahal sebenarnya mungkin, pernikahan mereka masih bisa diselamatkan.

2. Sayang

“Saya sayang dia, dia juga sayang banget sama Saya, mungkin kami memang jodoh, lagipula kan mereka akan cerai.” Yakin sayang? Lust  dan love itu terkadang sulit dibedakan, coba deh pikirin lagi, beneran sayang atau bukan. Biasanya, pacaran dengan yang akan cerai, akan lebih dimanja, tapi hukum tabur tuai itu ada, we never know.

3. Takut Sendiri

Karena takut sendiri, daripada ngga ada pacar, ya sudah pria beristri yang akan cerai juga gapapa.

4. Finansial

Mungkin rasa sayang yang dimiliki tidak sebesar kebutuhan finansial, sehingga memutuskan untuk pacaran, walaupun proses perceraian belum tuntas.

5. Status Sosial

Selain finansial, tujuan untuk mengangkat status sosial juga bisa jadi alasan kenapa seseorang akhirnya memutuskan untuk pacaran dengan seseorang yang akan cerai.

6. Jumlah Pria Lebih Sedikit Daripada Wanita

Perbedaan jumlah pria dan wanita usia 15 thn s/d 64 thn di Indonesia, tidak sejauh itu koq, perbandingan pria dan wanita saat ini adalah 1.000 : 989 (Sumber: Statistik.PTKP.net)

7. Merasa Lebih Baik Dari Si Istri

Ada beberapa kasus yang Saya tau, mereka rela pacaran dengan pria beristri hanya karena ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari si istri.

RESIKONYA?

Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya, termasuk pacaran dengan yang akan cerai, berikut beberapa resiko pacaran dengan yang akan cerai:

1. Tidak Jadi Cerai

Kemungkinan tidak jadi cerai selalu ada. Coba bayangkan jika sudah memberikan segalanya untuk si pria, ternyata mereka tidak jadi cerai. Bagaimana dengan kehidupan yang sebelumnya baik-baik saja, jadi berantakan dan harus mulai membangun lagi dari awal karena hubungan dengan si pria selesai.

2. Siap-Siap Mengalami Hal Yang Sama

Jika si pria bisa menceraikan istrinya dengan alasan apa pun, maka kejadian yang sama juga bisa terulang lagi.

3. Hanya Selingan

“Akan cerai” mungkin digunakan untuk membuat seorang wanita mau menjalin hubungan dengan si pria sebagai selingan saat hubungannya dengan istri sedang jenuh. Jika ini yang terjadi, mungkin hubungan tersebut tidak akan pernah lanjut ke jenjang yang lebih serius.

4. Dianggap Sebagai Penyebab Perceraian

Walaupun si pria mengatakan bahwa dirinya sedang akan bercerai, tapi dengan kehadiran wanita lain, bisa saja wanita ini yang dianggap sebagai penyebab perceraian, merusak nama baik si wanita.

5. Anak

Jika pria tersebut sudah memiliki anak dari pernikahannya, berarti harus siap bahwa si pria akan meluangkan waktu-waktu tertentu dengan anak-anaknya dan mungkin mantan istri akan terlibat dalam waktu-waktu tersebut. Selain itu, juga harus dipikirkan bagaimana dengan penerimaan anak-anaknya.

6. Mantan Istri

Jika mantan istri bisa menerima perceraian tersebut dengan baik, mungkin masalah yang ditimbulkan tidak akan terlalu besar. Tapi bagaimana jika ternyata si istri tidak bisa menerima perceraian tersebut, berarti harus siap menghadapi berbagai kemungkinan yang ada. Bukan tidak mungkin terjadi, si pria kembali lagi ke mantan istri, apalagi kalau penyebab perceraian mereka karena jenuh atau bosan.

Sulit memang jika sudah jatuh cinta pada seseorang karena perasaan jadi lebih dominan sehingga logika tidak dapat bekerja dengan baik. Pembahasan di atas adalah beberapa resiko yang umum terjadi, masih banyak hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan sebelum benar-benar memutuskan untuk, “Ya, Saya yakin untuk pacaran dengan pria beristri ini”. Akan lebih baik jika sebelum perasaan menjadi sangat dominan dalam sebuah hubungan, cari tau dulu tentang si pria apakah sudah menikah atau belum, dan sebisa mungkin menjauh jika sudah tau si pria masih beristri.

It’s better to wait, than to be sorry..

 

@grcyrn

It’s Complicated

It’s Complicated!

Yup, ga Cuma status relationship aja yang bisa it’s complicated, hidup juga bisa. Saat-saat ini, seperti bom yang meledak, semua jadi satu! Semua ada! Kalau istilah one stop solution, saya, one stop problem, semua karena keegoisan, kebodohan dan kebiasaan tergantung sama manusia.

 

Kejadian sekitar 6 tahun lalu, keulang lagi, keledai aja ga ngulangin kesalahan yang sama sampe 2x. Semua campur aduk, antara takut, sedih, bodoh, nyalahin diri sendiri, semua perasaan negatif jadi satu.  Ada tokoh Alkitab yang masih disayang Tuhan, walaupun ngelakuin kesalahan yang sama berulang-ulang? Siapa?

 

Kalau ada masalah, bisa bilang, “gapapa, ini cara Tuhan untuk buat kamu lebih kuat dan lebih baik”, kalau masalahnya dibuat sendiri? In the pain there is healing, iya itu untuk orang-orang yang ga ngelakuin kesalahan yang sama berkali-kali, gimana dengan saya? Ngelakuin hal yang sama berkali-kali, apa masih bisa? Konsekuensi seperti apa yang saya terima? Lebih berat dari biasanya. Pengampunan memang ada, tapi konsekuensi tetep harus dijalanin, secara sabar dan yakin, Tuhan ga tinggalin saya.

 

Kemarin malam, muncul percakapan seperti ini:

“Kamu sombong Grace!”

“Kenapa?”

“Karena keputusan yang kamu buat, kamu buat keputusan itu karena terlalu yakin sama diri sendiri dan mau nunjukkin ke semua orang kamu bisa, karena kamu sudah diremehkan! Tapi liat diri kamu sendiri, berantakan! Tuhan mau kamu nyerah & pasrah, lepasin semuanya!”

“Apa yang musti dilepasin? Udah ga punya apa-apa lagi..”

“Kesombongan, keegoisan & kebiasaan ngandelin kekuatan manusia, bukan Tuhan”

“Ah Tuhan, lembutkan hati Saya.. Itu yang saya minta.. Rasanya hati ini sudah hancur, bukan jadi kepingan lagi, tapi bubuk..”

 

Ingin untuk jadi lebih baik, tapi setiap kali godaan muncul atau sesuatu yang terlihat lebih enak dibanding proses yang harus dijalanin untuk jadi lebih baik, seperti yang sudah-sudah, tergoda. Bosan rasanya selalu bilang ingin jadi lebih baik, tapi hanya bertahan beberapa waktu, lalu jatuh lagi. Mau sampai kapan?

 

Walaupun tau, Kasih Tuhan ga ada batasnya, tapi tetep pikiran ini mengganggu, “kalau Saya yang ngelakuin kesalahan yang sama berkali-kali, masih berlaku?”

 

Jadi keinget sama Henry Covington, pastor Afrro-America yang bolak-balik kena narkoba, tapi pada akhirnya bener-bener bertobat, tapi hidupnya ga enak. Huff, saya ga mau seperti itu, saya gam au punya hidup yang ga enak setelahnya. Lagi-lagi mau enaknya sendiri lagi, lagi-lagi egois, lagi-lagi ngandelin kekuatan manusia.

 

Beruntung masih ada orang tua, keluarga dan temen-temen yang mau terima & support Saya, walaupun mereka tau, ini terjadi karena keegoisan sendiri. Thanks!

 

Journey begins here..

Christmas Eve 2012

Tahun ini, Malam Natalnya beda dari tahun-tahun sebelumnya, kami tidak merayakannya di gereja, walaupun kami berada di dalam gedung Gereja, tapi di Nursery Room, next to the Church. I had Reagan, 39 days old at that day, with me, it was a bit possible to attend the Christmas Eve with Reagan without stroller, more comfortable in Nursery Room because there’s couch, so I put Reagan there. Here are some photos.

Image

Drinks! Mine – latte, Reagan – milk

Milk & Latte

Reagan was in a deep sleep while other babies & toddlers busy & noisy =))

Image

Happy Jolly Holy Christmas! 🙂

Silent Night

Malam Natal thn 1818, Joseph Mohr, seorang pendeta Austria mendapat kabar buruk, bahwa Piano di gerejanya rusak. membutuhkan waktu lama utk perbaikan dan tdk ada dana utk beli Piano baru. Ia bingung, Natal tanpa musik ?
Ia duduk dan mengubah lagu Natalnya agar lebih sederhana dan dapat diiringi oleh gitar.
Akhirnya terciptalah lagu “Stille Nacht” atau Silent Night atau Malam Kudus yg populer sepanjang masa. Krn Piano rusak, seluruh dunia memiliki lagu Natal yg indah.

Adakah rencana Anda yg tertunda ?
Apakah Anda terpaksa mengubah haluan krn ada rintangan dan kebuntuan ?
Selama tujuan Anda benar, jangan biarkan hambatan merintangi. Tuhan mungkin sedang mengarahkan Anda menempuh jalur alternatif lain, jalur yg hasilnya akan jauh lebih baik.

Pada hari ini,jadilah titik kebangkitan Anda utk tetap melangkah bersama Tuhan dgn IMAN dan DALAM KONDISI APAPUN.

Percayalah rencanaNya selalu indah walau terkadang awalnya menyakitkan TETAPLAH PERCAYA AKAN JanjiNYA dan NANTIKAN PertolonganNYA YG TIDAK PERNAH TERLAMBAT krn DIA mempunyai cara yg ajaib yg tdk pernah kita pikirkan, juga tdk terselami.