Have a Little Faith by Mitch Albom

for UrbanWomen.org Januari 2013

“… Ketika bayi lahir ke dunia, tangannya mengepal, bukan? Seperti ini?”

Ia mengepalkan tangannya.

“Mengapa? Karena bayi, ingin menggenggam apa pun untuk mengatakan, ‘Seluruh dunia ini milikku.’”

“Lalu ketika seseorang yang sudah tua meninggal, bagaiman ia mati? Dengan tangan terbuka. Mengapa? Karena ia telah mendapat pelajaran itu”

Pelajaran apakah itu? tanyaku.

Ia merentangkan jarinya lebar-lebar.

“Kita tidak dapat membawa serta apa pun.”

HaveALittleFinal

Buku Have a Little Faith, Sumber: MitchAlbom.com

 Demikian salah satu cuplikan dari buku Have a Little Faith karya Mitchel David ‘Mitch’ Albom, jurnalis di bidang olah raga, berdasarkan pengalaman pribadinya. Merupakan buku non-fiksi keduanya.

Have_a_Little_Faith-1r

Diawali dengan permintaan seorang seorang pemuka agama yang dihormati dan disegani, Rabi Albert Lewis, untuk menyampaikan eulogi di hari kematiannya. Permintaan ini, membuat Mitch perlu mengenal sosok Albert Lewis lebih dekat, tidak hanya sebagai pemuka agama, tapi juga sebagai sahabat. Banyak pelajaran yang didapat dari sini. Bukan hanya tentang kematian dan bagaimana menghadapinya, tapi juga kehidupan dan bagaimana menjalani serta menghargai hidup supaya bisa lebih bersyukur setiap waktu. Dibarengi kisah-kisah pertemuan Mitch dengan Henry Covington, Afro-Amerika yang ketagihan narkoba, dipenjara, bertobat lalu terlibat lagi dalam jual beli narkoba karena godaan keuangan dan berjanji tidak akan menggunakannya, tapi lagi-lagi karena godaan keuangan, menggunakannya lagi. Hingga suatu malam, Henry sangat ketakutan akan kematian, akhirnya bertobat dan hingga sekarang mengabdikan diri untuk melayani orang-orang di lingkungan sekitarnya. Dimulai dengan fasilitas yang cukup nyaman hingga akhirnya melayani dengan fasilitas seadanya, bahkan dapat dikatakan sangat kurang; atap bocor dan mesin pemanas yang tidak berfungsi dengan baik di musim dingin.

Have_a_little_faith-2r

Kisah kehidupan 2 orang mengagumkan yang sangat berbeda, Albert Lewis dan Henry Covington; Yahudi dan Kristiani, kulit putih dan Afrika-Amerika, ekonomis yang mencukupi dan miskin, Mitch memperhatikan bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut memiliki hal yang sama, IMAN untuk bertahan hidup dan menghadapi kematian. Iman? Semua orang mengenal kata ini, semua orang tau bahwa saat hidup terasa “mentok” iman diperlukan, hampir semua orang tau bahwa iman merupakan hal yang sangat penting untuk membuat seseorang tetap hidup, tapi bagaimana cara untuk mengaktifkan dan menggunakannya? Kehidupan Albert Lewis dan Henry Covington yang tercatat pada buku ini menunjukkan caranya, jawaban untuk setiap pertanyaan-pertanyaan kehidupan mengenai kegagalan, kemanusiaan, keluarga, pernikahan, sahabat, kehilangan, menghargai, menghormati, komitmen, melayani, kesehatan, mengucap syukur dan perbedaan, bagaimana bertahan di masa-masa sulit, apa itu surga, meragukan Tuhan, dan pentingnya iman di masa-masa sulit. Walaupun memiliki latar belakang dan cara berdoa yang berbeda, tapi iman membuat keduanya memiliki kesamaan. Pada akhirnya Albom menyadari kedua orang tersebut telah mengajarkan hal-hal berharga pada dirinya, kenyamanan yang mendalam tentang mempercayai sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Have a Little Faith adalah buku tentang tujuan hidup, tentang kehilangan keyakinan dan menemukan lagi, tentang kehadiran Tuhan dalam diri manusia. It is one man’s journey, but it is everyone’s story. 

Buku ini indah!

Have a Little Faith berada di urutan pertama dalam daftar Times Bestseller New York dan terpilih sebagai the Best Nonfiction Book of 2009 oleh Oprah.com.

 

@grcyrn

Advertisements

Workaholic

for UrbanWoman.org  Januari 2013

Workaholic (3)r

Sumber: CBC.ca

 Di Jepang, negara dengan jumlah penduduk workaholic terbanyak di dunia, memiliki istilah sendiri, yaitu “karoshi”, secara literal berarti “death by work”. Berdasarkan survey sederhana, wanita workaholic masuk dalam daftar tipe wanita yang dihindari pria untuk dijadikan pasangan, karena pria tidak ingin keluarganya terbengkalai karena pekerjaan. Lalu, apa bedanya workaholic dengan hard-worker? Secara garis besar, hard-worker masih tetap menjaga keseimbangan hidup, sementara workaholic hidupnya terobsesi oleh pekerjaannya.

Sebelum lanjut, berikut 20 pernyataan, untuk mengetahui apakah seseorang workaholic atau bukan, dengan menjawab Setuju atau Tidak (Sumber: Workaholics-Anonymous.org).

  1. Lebih tertarik terhadap pekerjaan daripada keluarga atau hal-hal lain.
  2. Ada waktu-waktu tertentu sangat semangat melakukan pekerjaan sedangkan pada saat melakukan hal lain tidak bersemangat.
  3. Membawa pekerjaan ke rumah, bahkan tempat tidur, akhir pekan & liburan.
  4. Pekerjaan merupakan hal yang paling disukai dan sering dibicarakan.
  5. Bekerja lebih dari 40 jam seminggu.
  6. Melakukan hobi untuk menghasilkan uang.
  7. Bertanggung jawab penuh terhadap hasil pekerjaan.
  8. Keluarga dan teman-teman menyerah mengharapkan UrbanWoman memiliki waktu untuk mereka.
  9. Melakukan lebih banyak pekerjaan karena tidak yakin bahwa orang lain dapat menyelesaikannya dengan baik.
  10. Takut bahwa proyek yang sedang dikerjakan tidak selesai tepat waktu, sehingga tergesa-gesa mengerjakannya.
  11. Tidak apa-apa bekerja berjam-jam, jika menyukainya.
  12. Tidak sabar dengan orang-orang yang tidak menjadikan pekerjaan sebagai prioritas.
  13. Takut jika tidak bekerja keras akan kehilangan pekerjaan atau gagal.
  14. Selalu khawatir akan masa depan, walaupun segala sesuatunya berjalan dengan baik.
  15. Melakukan segala sesuatu dengan penuh semangat dan kompetitif, termasuk bermain.
  16. Merasa terganggu saat diminta berhenti bekerja untuk melakukan hal lain.
  17. Jam kerja yang panjang menyakiti keluarga dan orang-orang yang terkasih.
  18. Memikirkan tentang pekerjaan pada saat berkendara, tertidur atau saat orang lain sedang berbicara.
  19. Bekerja pada saat makan.
  20. Merasa yakin bahwa memiliki lebih banyak uang akan memecahkan masalah lain dalam hidup.

Jika setuju pada lebih dari 3 pernyataan di atas, bisa dikatakan termasuk seorang workaholic.

workaholic-r

Sumber: SheKnows.ca

Berikut ini kisah 3 orang wanita workaholic yang memiliki pengalaman berbeda-beda.

Susi, Perbankan

Susi, pernah menjadi seorang wanita yang workaholic. Penyebabnya? Tidak setuju dengan cara perusahaan tersebut yang mengagung-agungkan kemampuan bicara dan networking. Sementara Susi adalah tipe orang yang sedikit bicara dan lebih suka menunjukkan kinerjanya melalui hasil kerja.

Susi memaksakan dirinya untuk bekerja lebih karena ingin menujukkan pada perusahaan bahwa masih ada hal lain yang lebih penting daripada networking dan omong kosong, tujuannya untuk membuktikan bahwa point yang dimiliki dirinya justru lebih baik dan mendapatkan pengakuan dari management, selain itu juga karena tidak setuju dengan cara perusahaan menilai dan merekrut orang. Saat itu, Susi belum menyadari kalau dirinya adalah seorang workaholic. Saat menyadarinya, Susi mulai berpikir lebih luas, mengapa dirinya melakukan hal tersebut dan apa tujuannya, seperti siapa yang akan diuntungkan dari hasil kerjanya tersebut. Karena penyebab workaholic-nya masih seputar masalah kantor, Susi memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan tersebut, karena tidak dapat menghindari kerja lembur yang disebabkan oleh beban kerja yang terlalu banyak tapi tidak diimbangi dengan SDM yang memadai.

Kehidupannya pun jadi tidak seimbang, jarang bersosialisasi, karena waktu luang yang ada lebih banyak dihabiskan untuk keluarga dan dirinya sendiri, walaupun sebenarnya muncul perasaan bersalah saat menghabiskan waktu luang tidak untuk pekerjaan. Selain kehidupannya yang tidak seimbang, Susi juga mengalami masalah kesehatan, yaitu nyeri punggung, hal ini membuatnya tidak bisa duduk terlalu lama, sebenarnya nyeri punggung ini adalah penyakit lama tapi muncul lagi karena terlalu lama duduk selama bekerja di perusahaan tersebut.

Febriamy Hutapea, 30, Jurnalis

Berawal dari masalah, Febri memilih pekerjaan sebagai pengalih perhatiannya, selain karena mencintai pekerjaan tersebut, juga karena 1/3 dari waktunya dalam sehari dihabiskan di kantor/pekerjaan tersebut. Hidup harus terus berjalan, jadi lebih baik mengalihkan perhatian ke pekerjaan daripada terperangkap dalam masalah tersebut dan tidak bergairah menjalani hidup,. Walaupun saat bekerja, masih bisa kepikiran tiba-tiba atau waktu break, tapi bisa cepat teralihkan karena suasana kantor/pekerjaan yang membatasi untuk terus larut dalam masalah tersebut. Pelarian pada pekerjaan tidak dapat mengalihkan perhatian secara penuh, karena bagaimana pun, masalah tersebut tetap ada, menunggu untuk dihadapi dan diselesaikan. Pengalihan hanya membantu agar bisa terus menjalani hidup dengan lebih optimis. Ada kalanya, kehadiran teman atau melakukan hobi juga diperlukan untuk menghabiskan waktu setelah bekerja agar tidak memikirkan masalah tersebut. Tapi biasanya, kalau pulang kantor sudah capek, bisa langsung tidur.

Menurutnya, namanya masalah, tidak semuanya bisa langsung selesai gitu aja. Perlu ada proses dan kadang memang memerlukan waktu. Febri sendiri adalah orang yang menyukai proses, jadi pada saat mengalihkan perhatiannya dari masalah, bukan berarti tidak mau menghadapi masalah, tapi karena ada proses yang harus dijalani. Kadang alasan seseorang tidak mau menyelesaikan masalah karena keegoisannya atau ngga mau ngalah, seiring waktu yang berproses dapat membuat seseorang menjadi sadar.

Seiring dengan Febri yang mau berproses dengan waktu, masalah tersebut saat ini sudah semakin jauh lebih baik. All the best, Feb! 🙂

 

Farida Sutarman, 30, Brand Strategist

Berbeda dengan Susi dan Febri yang menjadi workaholic karena masalah, Farida menjadi workaholic karena mencintai pekerjaannya. Mulai dari gemar membuat greeting card waktu kecil yang mendapat banyak respond positif dari teman-temannya karena design dan kata-katanya yang dapat menggambarkan karakter masing-masing, membuat teman-temannya sering minta untuk dibuatkan customized card untuk orang yang berbeda. Moment ini yang membuat Farida sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melihat kualitas orang-orang di sekitarnya.

Hidup di industri media tidak pernah direncanakan sebelumnya, dengan minat yang sedikit Farida mulai bekerja dan belajar lebih banyak tentang periklanan. Sifatnya yang organized dan teliti me-manage orang membuatnya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan mudah di perusahaan media sebagai operational manager. Kemudian, dirinya bergabung di perusahaan advertising agency sebagai brand strategist, ternyata cocok dengan sifat yang dibangunnya dari hobi membuat greeting card. Mengidentifikasi kelebihan produk dan bagaimana cara mengirim pesan ke konsumennya, memberikan kesenangan tersendiri, sama seperti kesenangan yang didapat waktu membuat greeting card.

Ia baru sadar bahwa dirinya workaholic setelah teman-temannya terus-menerus memberitahu bahwa dia workaholic. Menurut Farida, workaholic adalah penilaian orang akan kelainan seseorang apabila orang tersebut bekerja terlalu lama, sama seperti orang yang suka main piano disebut pianist, orang yang suka biologi disebut dokter, orang yang suka nyumbang disebut philantrophist dan orang yang sering belanja baju untuk majikkannya bisa disebut shopaholic, sebenarnya semua itu adalah pekerjaan, sama seperti dirinya yang senang bekerja disebut workaholic oleh orang lain. Jadi, workaholic atau tidak bukan suatu kesadaran tapi berdasarkan seberapa jauh kelainan seseorang dari mayoritas karena banyaknya waktu yang dihabiskan di pekerjaan saja.

Jika pekerjaan sehari-hari terasa seperti hobi dan passion, tanggung jawab yang diterima terasa lebih menarik, bukan sebagai beban kerja tapi sumber kesenangan hidup, membuatnya selalu ingin segera bekerja kembali. Orang-orang seperti dirinya malah merasa tidak nyaman jika harus berhenti bekerja. Melanjutkan atau menghentikan “workaholic”? Ia memilih lanjut karena motivasi awalnya adalah hidup senang dengan melakukan sesuatu yang dicintai, jadi tidak mungkin kepikiran tentang berhenti atau lanjut. Suatu hari nanti, Farida ingin memiliki perusahaan media sendiri. Baginya, ada hal yang lebih penting dari kemapanan finansial, yaitu belajar hal baru dan bermanfaat bagi masyarakat. Farida menyukai travelling ke kota-kota seperti Tokyo atau London, untuk menjelajahi perkembangan media advertising disana, hmm, tetep ga lepas dari pekerjaan, yang penting bahagia J. Dirinya juga tidak terlalu memprioritaskan materi karena menurutnya kepuasan materi hanya sesaat, lama-lama bisa bosan..

Baginya, kesenangan dan kepuasan hidup merupakan ukuran dari keseimbangan hidup. Menilai keseimbangan seperti hitam dan putih sangat tidak berlaku di jaman sekarang. Farida merasa bahwa kehidupannya saat ini sangat seimbang, karena senang. Kecintaan pada pekerjaan yang membuat suasana hatinya lebih aktif dan bahagia, membuat hubungannya dengan keluarga dan teman-teman sangat dekat. Walaupun awalnya pernah dikomplen orang tua karena masih bekerja di hari Sabtu atau hari-hari libur nasional, tapi lama-lama mereka mengerti bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesenangan hidupnya. Hubungan dekatnya dengan keluarga, memang sudah dibangun dari dulu didukung dengan kecintaannya terhadap pekerjaan ini membuat hubungannya dengan keluarga semakin dekat.

Sosialisasi adalah kebutuhan hidup, semua manusia memerlukan dukungan mental dan pengakuan agar hidup lebih berarti. Bertemu banyak orang dengan latar belakang yang sama membuat dirinya merasa cukup beruntung, karena memiliki kesamaan sehingga membuat mereka lebih dapat mengerti tentang bidang pekerjaan yang digelutinya. Asik dengan pekerjaan tidak menghalangi Farida untuk tetap update dengan info terbaru, terutama trend campaign media terbaru.

Dari kisah ketiga wanita tersebut, workaholic atau tidaknya seseorang, kembali ke pribadi masing-masing, apakah menganggap dirinya workaholic atau tidak, apakah meyadari bahwa dirinya adalah workaholic atau tidak hingga ada yang memberitahu. Walaupun kebanyakan orang menjadi workaholic karena masalah tertentu dan memberikan efek buruk karena mengganggu keseimbangan hidup, ternyata hobi dan passion juga dapat membuat seseorang menjadi workaholic dan menjadikannya sebagai sumber kesenangan hidup tanpa harus merusak keseimbangan hidup, sehingga kesehatan dan hubungan baik dengan keluarga dan teman tetap terjaga.

Menjadi workaholic bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan. Setiap hal memiliki sisi baik dan buruk. Workaholic, kesenangan atau beban hidup? Silahkan menentukan. J

Happy working! 😉

@grcyrn

Pacaran Dengan yang Akan Cerai

for UrbanWoman.org Januari 2013

lonely-married-man

Sumber: MarriedAndDating.com

Pacaran dengan pria yang akan cerai? Dipiki-pikir, kan udah mau cerai, jadi bukan Saya penyebab perceraian mereka, memang mereka sudah mau cerai dari dulu. Sepintas, terlihat ngga masalah. Tapi apa bener ga masalah? Banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan untuk benar-benar memutuskan mau pacaran dengan orang yang baru akan cerai.

KENAPA MAU?

Kenapa sampai mau pacaran dengan pria yang akan cerai? Sebenarnya sama saja seperti pacaran dengan pria beristri, hanya katanya “akan cerai”, tapi apa bener mau cerai? Sudah benar-benar sedang mengurus proses perceraiannya? Atau hanya ucapan supaya si wanita mau jadi yang kedua, selingan, padahal sebenarnya tidak ada rencana untuk bercerai. Kalau saat ini sedang menjalani hubungan dengan pria beristri yang akan bercerai, coba bayangkan bagaimana perasaan si istri, saat keadaan rumah tangga kacau dan hampir cerai, tiba-tiba muncul wanita lain yang justru membuat masalah makin rumit.

Berikut beberapa alasan kenapa memutuskan berpacaran dengan yang akan cerai:

1. Kan Udah Mau Cerai

Kan udah mau cerai, jadi ngga masalah, yang penting bukan Saya penyebab perceraian mereka”, mungkin ini yang pertama kali muncul, bukan penyebab utama perceraian mereka, tapi menjadi salah satu faktor yang memperkuat alasan mereka untuk bercerai. Padahal sebenarnya mungkin, pernikahan mereka masih bisa diselamatkan.

2. Sayang

“Saya sayang dia, dia juga sayang banget sama Saya, mungkin kami memang jodoh, lagipula kan mereka akan cerai.” Yakin sayang? Lust  dan love itu terkadang sulit dibedakan, coba deh pikirin lagi, beneran sayang atau bukan. Biasanya, pacaran dengan yang akan cerai, akan lebih dimanja, tapi hukum tabur tuai itu ada, we never know.

3. Takut Sendiri

Karena takut sendiri, daripada ngga ada pacar, ya sudah pria beristri yang akan cerai juga gapapa.

4. Finansial

Mungkin rasa sayang yang dimiliki tidak sebesar kebutuhan finansial, sehingga memutuskan untuk pacaran, walaupun proses perceraian belum tuntas.

5. Status Sosial

Selain finansial, tujuan untuk mengangkat status sosial juga bisa jadi alasan kenapa seseorang akhirnya memutuskan untuk pacaran dengan seseorang yang akan cerai.

6. Jumlah Pria Lebih Sedikit Daripada Wanita

Perbedaan jumlah pria dan wanita usia 15 thn s/d 64 thn di Indonesia, tidak sejauh itu koq, perbandingan pria dan wanita saat ini adalah 1.000 : 989 (Sumber: Statistik.PTKP.net)

7. Merasa Lebih Baik Dari Si Istri

Ada beberapa kasus yang Saya tau, mereka rela pacaran dengan pria beristri hanya karena ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari si istri.

RESIKONYA?

Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya, termasuk pacaran dengan yang akan cerai, berikut beberapa resiko pacaran dengan yang akan cerai:

1. Tidak Jadi Cerai

Kemungkinan tidak jadi cerai selalu ada. Coba bayangkan jika sudah memberikan segalanya untuk si pria, ternyata mereka tidak jadi cerai. Bagaimana dengan kehidupan yang sebelumnya baik-baik saja, jadi berantakan dan harus mulai membangun lagi dari awal karena hubungan dengan si pria selesai.

2. Siap-Siap Mengalami Hal Yang Sama

Jika si pria bisa menceraikan istrinya dengan alasan apa pun, maka kejadian yang sama juga bisa terulang lagi.

3. Hanya Selingan

“Akan cerai” mungkin digunakan untuk membuat seorang wanita mau menjalin hubungan dengan si pria sebagai selingan saat hubungannya dengan istri sedang jenuh. Jika ini yang terjadi, mungkin hubungan tersebut tidak akan pernah lanjut ke jenjang yang lebih serius.

4. Dianggap Sebagai Penyebab Perceraian

Walaupun si pria mengatakan bahwa dirinya sedang akan bercerai, tapi dengan kehadiran wanita lain, bisa saja wanita ini yang dianggap sebagai penyebab perceraian, merusak nama baik si wanita.

5. Anak

Jika pria tersebut sudah memiliki anak dari pernikahannya, berarti harus siap bahwa si pria akan meluangkan waktu-waktu tertentu dengan anak-anaknya dan mungkin mantan istri akan terlibat dalam waktu-waktu tersebut. Selain itu, juga harus dipikirkan bagaimana dengan penerimaan anak-anaknya.

6. Mantan Istri

Jika mantan istri bisa menerima perceraian tersebut dengan baik, mungkin masalah yang ditimbulkan tidak akan terlalu besar. Tapi bagaimana jika ternyata si istri tidak bisa menerima perceraian tersebut, berarti harus siap menghadapi berbagai kemungkinan yang ada. Bukan tidak mungkin terjadi, si pria kembali lagi ke mantan istri, apalagi kalau penyebab perceraian mereka karena jenuh atau bosan.

Sulit memang jika sudah jatuh cinta pada seseorang karena perasaan jadi lebih dominan sehingga logika tidak dapat bekerja dengan baik. Pembahasan di atas adalah beberapa resiko yang umum terjadi, masih banyak hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan sebelum benar-benar memutuskan untuk, “Ya, Saya yakin untuk pacaran dengan pria beristri ini”. Akan lebih baik jika sebelum perasaan menjadi sangat dominan dalam sebuah hubungan, cari tau dulu tentang si pria apakah sudah menikah atau belum, dan sebisa mungkin menjauh jika sudah tau si pria masih beristri.

It’s better to wait, than to be sorry..

 

@grcyrn

Nusa Penida, Bali

untuk UrbanWomen.org

Hai-hai! Kalau di edisi-edisi sebelumnya, membahas lokasi-lokasi wisata di luar negri, kali ini, UrbanWomen akan membahas tentang Nusa Penida, Bali! Bali, merupakan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Untuk Bali secara umum, fakta menunjukkan bahwa jumlah Wisatawan Mancanegara (WisMan) yang mengunjungi Bali pada Januari 2012 melalui Bandara Ngurah Rai sejumlah 249.728 orang, sedangkan jumlah WisMan yang datang ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta pada bulan Januari 2012  adalah 156.654 orang. Wow!

UrbanWomen yang senang diving, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tempat ini. Makhluk laut yang unik, Ikan Mola-mola juga dikenal sebagai Ikan Matahari atau Ocean Sunfish. Sutra, yang membuatnya semakin menarik

 

NUSA PENIDA

Nusa Penida merupakan pulau terbesar dibandingkan dengan 2 pulau lainnya, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, yang terletak di pesisir tenggara Bali, ketiga pulau ini berjarak sekitar 20 km dari Bali. Secara administratif, Nusa Penida merupakan bagian dari Kabupaten Klungkung, sedangkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceninga merupakan bagian dari wilayah Nusa Penida, walaupun terletak secara terpisah. Selat Badung memisahkan Pulau Nusa Penida dengan Bali.

Nusa Penida merupakan pulau yang dijadikan tempat perlindungan burung, uniknya, pulau ini merupakan pulau yang didiami masyarakat, di mana masyarakat setempat menggunakan adat tradisional sebagai peraturan yang digunakan untuk melindungi burung-burung yang ada di pulau ini. Selain dijadikan tempat perlindungan burung, beberapa lokasi juga digunakan sebagai tempat perlindungan tumbuh-tumbuhan dan kura-kura. Di pesisir utara Nusa Penida, banyak terdapat pantai berpasir putih yang tenang dan terpencil. Hal lain yang menakjubkan adalah UrbanWomen dapat menemukan goa, tebing yang sangat tinggi di bagian selatan dan timur.

Berikut adalah pengalaman Ayah & Putrinya, Paul & Sutra, diving di Crystal Bay, Nusa Penida, Bali.

Sekilas mengenai mereka, Paul saat ini merupakan Founding Partner ARKdesign, perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur, dan Sutra, mahasiswi kuliah di UCLA jurusan Marine Biology dan aktif sebagai volunteer kelautan selama kuliah.

CRYSTAL BAY

Disebut juga Pantai Penida. Untuk bisa tiba di sini adalah dengan melalui jalan kecil yang mengarah ke barat dari jalan utama di Desa Sakti, terus jalan hingga ketemu pantai. Pantai pasir putih yang sangat indah di Banjar Penida, sebelah barat Desa Sakti di bagian Barat Laut pesisir menghadap Nusa Ceningan. Airnya yang masih jernih, pas banget buat snorkeling & pantai pasir putihnya, buat piknik, bahkan camping. Tempatnya indah banget, serasa milik pribadi, walaupun sebenarnya di sana juga ada penduduk lokal dan beberapa pengunjung lainnya. Coba deh bayangin, liburan ke pantai yang pasirnya putih bersih, airnya jernih disertai pemandangan indah dan hanya ada beberapa pengunjung, heaven!

Berikut merupakan sharing pengalaman diving Ayah & Putrinya di Nusa Penida, Bali, yaitu  Paul, sang Ayah, founding partner dari ARKdesign, perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur, dan Sutra, putrinya, 20 tahun, saat ini kuliah di UCLA, jurusan Marine Biology dan aktif sebagai volunteer di bidang kelautan.

HARI PERTAMA

Perjalanan dimulai dari Jakarta, di pertengahan bulan Agustus 2012, saat suhu lautan dingin dan dalam keadaan tenang. Mereka menuju Bali menggunakan pesawat, memerlukuan waktu ± 1 jam. Setelah tiba di Bali, Paul & Sutra, melanjutkan perjalanannya ke Pantai Sanur. Kemudian, dilanjutkan dengan perjalanan ke Nusa Penida menggunakan speed boat, memerlukan waktu sekitar 40 menit, jika cuaca bersahabat, hingga 1 jam. Setelah tiba di Nusa Penida, mereka langsung menuju Crystal Bay, atau dikenal dengan Manta Point. Disebut Manta Point, karena pada area ini, terdapat banyak Ikan Manta. Tim Ayah & Putri ini, tiba di Manta Point sekitar pukul 11:00 waktu setempat, dan sayangnya perburuan mereka di hari pertama tidak memberikan hasil, bahkan melihat Manta saja tidak.

HARI KEDUA

Karena semangat merkea yang pantang menyerah, di hari kedua, Paul & Sutra, mencoba strategi baru, yaitu dengan tiba lebih pagi, supaya masih sepi sehingga kemungkinan untuk melihat ikan-ikan yang unik dan indah lebih besar, selain itu juga menggunakan jasa guide yang lebih berpengalaman. Ternyata, untuk bisa bertemu dengan makhluk-makhluk laut yang unik dan indah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah arus laut, suhu laut, guide, tim diving saat itu dan cuaca. Rombongan ini tiba di Crystal Bay sektiar pukul 09:30 waktu setempat. Pada saat itu, arus sedang kencang, artinya banyak makanan berupa plankton, sehingga ikan akan “keluar” untuk mencari makan. Tapi, karena arus sedang kencang, tim ini harus lebih berhati-hati, karena jika tidak mereka justru akan hanyut terbawa arus.

Selanjutnya, mereka masuk ke kedalaman 25 point, dan menungu di balik batu, supaya tidak terbawa arus. Setelah menunggu sekian lama, mereka mulai kecewa dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke darat dan mencoba lagi keesokan harinya.

Eits, tunggu dulu! Ternyata, saat mereka sedang berenang ke atas, sekitar kedalaman 25 meter dengan rasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan makhluk-makhluk laut yang indah dan unik tersebut, justru malahan mereka bisa melihat dari jarak yang cukup dekat, Ikan Mola-mola beserta dengan dayang-dayangnya, maksudnya cleaning fish yang pada saat itu adalah Butterfly Fish, hehe. Berikut beberapa foto yang berhasil diambil oleh Paul menggunakan kameranya, tapi tidak boleh menyentuhnya, karena ada kemungkinan perpindahan bakteri dari manusia ke Ikan Mola-mola, begitu juga sebaliknya, yang bisa jadi membahayakan.

Puas dengan Ikan Mola-mola, kali ini mereka beneran naik ke darat. Sekitar pukul 11:00 waktu setempat, setelah istirahat beberapa waktu, mereka melanjutkan diving ke area Tugu, hanya untuk diving santai, karena sudah puas bisa bertemu dengan Ikan Mola-mola. Mereka menyelam hingga kedalaman 25 m – 30 m, kejar-kejaran sama ikan-ikan kecil. Saat Paul sedang dalam posisi telentang, tiba-tiba, sekali lagi keajaiban terjadi, Paul melihat sesuatu melintas di atasnya, dan akhirnya menyadari bahwa yang sedang meilintas di atasnya itu adalah Ikan Paus (Whale Shark)! Girangnya bukan main, karena ini merupakan kejadian yang sangat langka! Bahkan, guide yang membawa mereka dan sudah berpengalaman selama 8 tahun, baru kali ini melihat Paus (Whale Shark). Sayangnya, kamera Paul ditinggal di atas kapal, jadi pengalaman ini hanya bisa dinikmati dan terekam dalam memori mereka saja, sedangkan kita yang membaca, cukup puas dengan membayangkannya J.

Luar biasa menarik yah, pengalaman mereka di hari kedua, apa yang ga pernah dipikirkan oleh manusia, itu yang disediakan Tuhan, terus, sekalinya dapet, ya keterusan, apa yang ada malah ditambah-tambahkan terus, setelah liat Ikan Mola-mola, sama sekali tidak berharap bisa bertemu Paus, eh, malah bisa ketemu.

TEMPAT INDAH LAINNYA DI NUSA PENIDA

Nusa Penida memang dikenal sebagai tempat untuk diving, nah untuk yang ngga atau belum hobi diving? Tenang, Nusa Penida juga merupakan tempat yang tepat untuk trekking & mountain biking, selain itu juga bisa melihat burung-burung indah yang ada dalam perlindunga. Berikut beberapa lokasi di Nusa Penida yang tepat untuk dijadikan tempat refreshing:

 

AIR TERJUN SEBULUH

Air Terjun Sebuluh, berada 5 km dari Desa Batu Madeg. Di sini terdapat bongkahan batu karang di sepanjang pesisir selatan dan juga karst yang keren banget, will take your breath away!

 

FNPF BIRD SANCTUARY

Friends of National Parks Foundation merupakan organisasi non-profit lokal Indonesia, didirkan tahun 1997 oleh sekelompok dokter hewan dan komunitas perlindungan alam yang perduli pada Indonesia. Hewan yang dilindungi adalah Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). Hewan ini merupakan burung khas Bali dan jenis burung di dunia yang terancam punah, karena keberadaannya sudah sangat jarang

 

GOA KARANG SARI

Goa Karang Sari terletak 4 km di sebelah selatan dari Desa Suana, merupakan area wisata yang pastinya tidak boleh terlewatkan, karena goa yang terbentuk dari batu gamping ini memiliki stalaktit dan bentukan batu gamping yang indah. Goa ini juga memiliki kepentingan spiritual.

Untuk masuk ke dalam Goa Karang Sari, terdapat pintu masuk yang sangat kecil di bagian puncak, kira-kira berjarak 50 langkah dari jalanan. Untuk dapat masuk kedalamnya, perlu merangkak, dan jangan lupa untuk mengenakan sarung dan selempang, karena Goa Karang Sari merupakan Pura. Kalau lupa bawa, bisa sewa dengan harga Rp 5.000,-

 

PURA PENATARAN AGUNG PED

Pura Penataran Agung Ped, dikenal juga sebagai Pura Penataran Dalem Ped atau ada juga Pura Penataran Ped. Terletak di Desa Ped, yang berada di jalan antara Toyapakeh dan Sampalan, terdapat Pura Penetaran Dalem, bangunan Hindu Bali megah dan indah yang mempesona. Pura ini dibuat dengan desain yang mewah, berbeda dengan Pura pada umumnya di Nusa Penida yang dibuat secara sederhana. Karena pengaruhnya yang sangat luas, yakni seluruh pelosok Bali, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat.

 

PUNCAK MUNDI

Merupakan puncak tertinggi di Nusa Penida, berada pada ketinggian 521 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai Puncak Mundi, jalanan yang ditempuh cukup nyaman karena sudah beraspal dan permukaannya cukup bagus. Perjalanan menuju Puncak Mundi didominasi dengan pendakian yang cukup curam, untuk itu persiapkan kendaraan supaya dalam keadaan prima. Memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai ke Puncak Mundi. Setibanya di sana, jangan tinggalkan barang bawaan di mobil, atau bakal jadi objek jarahan kera. Udaranya dingin, untuk itu, jangan lupa bawa & kenakan baju yang tebal, khususnya di malam hari. Terdapat 2 Pura penting, yaitu Pura Puncak Mundi dan Pura Krangkeng.

Bukan hanya dapat menikmati indahnya pemandangan & birunya laut dari atas pegunungan kapur andesit tersebut, Puncak Mundi juga memiliki manfaat lain yaitu sebagai penghasil tenaga listrik. Penghasil tenaga listrik, bukan karena mengandung minyak bumi dan batu bara, tapi justru memiliki energi lain yang dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, yaitu hembusan angin. Hembusan angin di wilayah tersebut mampu menggerakkan kipas besi pada unit Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA). Saat ini sudah ada 2 buah unit, masing-masing unitnya mampu menghasilkan 80 Kw. Energi listrik yang dihasilkan ini dinikmati oleh penduduk yang tinggal di ketiga pulau, Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

@grcyrn

Buat Kita Kaum Perempuan

untuk UrbanWomen.org

Menjadi perempuan yang sudah cukup umur untuk menikah tapi belum merasa mantap untuk berkomitmen dan tetap memilih untuk stay single bukanlah hal mudah saat ini. Tekanan dari pihak keluarga besar dan tatapan sinis sebagian kalangan masyarakat di lingkungan kerja kadang cukup membuat pening kepala. Semakin besar rasanya kebutuhan akan support secara emosional untuk bisa tetap bertahan dari hari ke hari. Tapi untuk seusia saya, berpacaran seringkali sudah dianggap menjurus ke pernikahan, padahal jelas-jelas – karena pertimbangan pribadi-  saya belum mau menikah.

Suatu kali teman saya pernah menyinggung soal FWB alias friend with benefits, menjalin hubungan demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, pada umumnya yang menyangkut love, affection dan materi. ‘Rule’-nya, antara lain, dilarang gampang sakit hati kalau hubungan tiba-tiba/otomatis/serta merta berakhir, dilarang berpikir  bahwa kedua pihak wajib terus mempertahankan komitmen ‘FWB’-nya, dilarang menuntut hal-hal lebih dari ‘sekedar’ FWB,  dilarang menjalin FWB dengan niat mencari pacar –karena FWB justru ada untuk mereka yang tidak berniat untuk berpacaran – dan lain-lain yang intinya hubungan ini selalu punya exit door yang terbuka tanpa bisa menuntut tanggungjawab atas konsekuensi yang bisa terjadi akibat FWB ini.

Ternyata banyak juga disekeliling saya yang menjalin hubungan FWB ini. Hubungan mereka bukannya tanpa status, tapi statusnya ‘hanya’ teman, dan harus memberi keuntungan sesuai yang kita inginkan. Prinsipnya, hubungan keterikatan antar ‘teman’ itu dasarnya adalah keuntungan yang didapat, bukan komitmen atau tanggungjawab sebagai teman yang baik dan tidak memanfaatkan orang demi keuntungan pribadi. Jadi, FWB ini meskipun ada yang disepakati bersama, sesungguhnya penilaiannya tergantung masing-masing pribadi karena tidak ada komitmen antara keduanya.

Sempat terpikir rasanya bagus juga punya FWB, bisa men-support kita dan membuat hidup kita ebih enjoy dengan hubungan pertemanan yang lebih intim dari biasanya. Maklum, saja, sebagaimana kita ketahui, keintiman adalah salah satu sumber kebahagiaan.  Hmm,  I think i can handle this. Pikir saya, okay, let’s search for the right guy for this relationship….

Tapi akhirnya tidak terjadi. Alasannya, menemukan partner FWB sesuai kriteria saya ternyata tidak mudah. Maklum, memang dari sananya selera saya agak njlimet, menemukan yang cocok tapi hanya sebatas FWB rasanya lebih sulit daripada menemukan yang cocok dan berniat untuk menikah. Tapi justru itu kan pertimbangan saya untuk FWB.

Dan setelah saya pikir lebih lagi,  saya juga tidak rela kalau diri saya  mendapat perlakuan yang sama, yaitu hanya dimanfaatkan untuk bisa mendapatkan keuntungan tertentu bagi orang lain.

Sempat juga terpikir kenapa saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang tampaknya baik-baik saja dengan ‘status’ FWB mereka. Kesimpulan saya, orang mungkin saja  tampaknya seperti punya situasi yang sama, tetapi keunikan masing-masing pribadi dan  nilai-nilai yang kita percayai satu sama lain jelas berbeda. Ada orang yang bersedia kompromi demi mendapatkan sesuatu, ada juga yang tidak.  Jadi ketika ada orang yang kelihatan enjoy dengan FWB mereka, bukan berarti semua orang mengalami hal yang sama.

Dalam pertemanan pun FWB seringkali terjadi. Disadari atau tidak, kadang kita menjalin pertemanan karena ingin mendapat keuntungan tertentu, misalnya demi keuntungan materi , demi mendapatkan relasi, memperoleh status sosial tertentu atau keuntungan spesifik lainnya. Dan ketika teman kita tidak lagi dapat memberikan keuntungan yang kita harapkan, atau kita mendapat ‘teman’ yang lebih menguntungkan, serta merta hubungan pertemanan akan berakhir. Perbedaannya antara mereka yang dari awal berteman dengan tujuan untuk mendapat keuntungan dengan mereka yang sejalan dengan pertemanannya kemudian mendapat keuntungan dari pertemanan tersebut sepenuhnya terletak pada perasaan yang tulus dalam pertemanan. Pertemanan yang tulus pada dasarnya tidak menghitung untung rugi  dan tidak bersiasat dalam pikiran kita untuk mendapat keuntungan tertentu atau memanfaatkan teman kita tanpa mereka sadari.

Orang yang berteman demi benefit atau keuntungan tertentu, seringkali juga tidak memiliki empati dengan keadaan atau masalah yang sedang dihadapi temannya. Dia akan cermat berhitung atas keuntungan yang didapat dan meminimalisir untuk terlibat secara emosional apabila tidak memberikan keuntungan apapun baginya.

 

Awalnya saya berpikir bahwa hubungan FWB dalam pertemanan ini  sepertinya tidak pas  untuk perempuan yang biasanya mengedepankan perasaan yang tulus dalam bersahabat , sebagaimana sebuah semangat sisterhood  yang kuat.

Tetapi sepertinya saya keliru karena justru perasaan perempuan seperti inilah yang dimanfaatkan mereka – baik lawan jenis atau sesama perempuan – untuk menjalin hubungan yang mengedepankan keuntungan untuk diri sendiri  alias FWB. Berbeda dengan kaum pria yang punya ‘dunia’-nya sendiri yaitu dirinya sendiri dan pencapaian alias kesuksesannya, dunia perempuan adalah dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya tempatnya berbagi rasa, kebahagiaan dan keindahan Maka ketika seorang perempuan mendapati dirinya di tengah persahabatan yang sarat dengan mencari keuntungan pribadi, tidak seperti yang ia harapkan, somehow  it will destroye her beautiful world. Seberapa parah kehancurannya, tergantung seberapa banyak ia telah berbagi perasaan dengan orang tersebut. Itulah ‘harga’ dari sebuah FWB dalam pertemanan. Rasanya tidak sebanding dengan pertemanan yang tulus dan saling support dalam sisterhood yang menyenangkan sebagai sesama perempuan.

Kembali lagi ke situasi saya di awal sebagai perempuan single , dengan menimbang semua pertimbangan, saya menyimpulan bahwa FWB bukan solusi untuk situasi saya saat ini karena justru menimbulkan konflik dalam batin yang tidak mudah dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan yang saya percayai selama ini.

Saya  setuju dengan Gibran yang mengatakan bahwa ,”Friendship is a sweet responsibility, never an opportunity.”

Membangun suatu hubungan adalah sebuah tanggungjawab yang mulia, tidak pernah sebagai  sebuah peluang. Menjalin hubungan pertemanan, berpacaran atau menikah, adalah bertanggungjawab untuk ada bagi satu sama lain untuk memberikan support yang diharakan sesuai komitmen yang dibangun pada tiap tingkatan hubungan tersebut.

Menjalin hubungan itu baik, tetapi  tidak selalu menjadi solusi yang tepat demi untuk mendapatkan support dari luar atas masalah yang kita hadapi sehari-hari.  Solusi atas hal itu sesungguhnya didapat dengan  mempertimbangkannya dengan  keyakinan kita masing-masing dan menggunakan rasio untuk melakukan apa yang dirasa benar dan sesuai hati nuarni.

FWB hanyalah sebuah  alternatif sementara untuk love life dan sebuah keakraban  yang sarat dengan tujuan tanpa ketulusan dan empati dalam sebuah friendship . Lebih dari FWB, the real benefits buat saya adalah  menemukan  pasangan atau sahabat yang tetap menerima kita apa adanya dan berkomitmen untuk tetap bersama-sama dengan kita dalam suka maupun duka.

And i do believe that good things will come for those who believe in the the goodness of life for our love life and friendship. At the right time, with the right person, and in the right way.

 

(Cecile T.)

Dimanfaatin? Manfaatin Balik Donk!

untuk  UrbanWomen.org

Biasanya dalam sebuah hubungan Friends with Benefits, akan ada rasa sakit hati, entah dari salah satu pihak atau keduanya, karena didalamnya ada asas manfaat. Nah untuk pihak yang ngerasa dirugikan karena dimanfaatkan, daripada kelamaan sakit hati ato kesel karena uda dimanfaatkan, lebih baik cari cara bagaimana memanfaatkan keadaan yang ada itu untuk membuat diri jadi lebih baik.

 “Enak aja ngarepin dia biar sukses! Mana bisa begitu, udah manfaatin, bikin sakit juga, terus sekarang musti berharap supaya hal baik terjadi sama dia? Ga rela!”

Kira-kira begitu kalimat atau pemikiran yang akan muncul kalau seseorang diminta untuk mengharapkan hal baik terjadi pada seseorang yang udah nyakitin, bener ga? Hayo ngaku! Sebagian besar manusia akan memberikan reaksi seperti itu, termasuk Saya. Sepertinya ga adil, kalau orang yang sudah nyakitin dan manfaatin Saya diharapkan bisa sukses, yang ada Saya malah ngarepin supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu.

Dimanfaatkan seseorang dalam konotasi negatif memang ga enak, maunya ngebales, atau kalau pun ga ngebaes langsung, berharap supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu. Sedangkan kalau ada orang yang berbuat baik, manusia cenderung akan membalasnya dengan kebaikkan.

 

Apa yang Terjadi Setelah Dimanfaatkan Seseorang?

Setelah dimanfaatkan seseorang habis-habisan, kebanyakan manusia akan terpuruk dalam lembah penyesalan, kemarahan, dan kesedihan, terus mikirin gimana ngebalesnya dengan cara yang lebih kejam. Jika sampai hal ini terjadi, yang pasti rugi adalah diri sendiri, mulai dari ga focus sama kerjaan, nafsu makan bertambah atau berkurang sehingga mengganggu bentuk tubuh, pengaruhnya ke kesehatan, parahnya lagi kalau sampe sakit hati, bisa menyebabkan kanker.

Ga mau kan gara-gara satu orang yang nyakitin, malah kena penyakit kanker atau penyakit berat lainnya, rugi! Kalau sampe ini kejadian, artinya, orang yang manfaatinnya sukses banget! Uda berhasil manfaatin, terus berhasil bikin susah juga.

Sudah biasa terjadi, jahat dibalas dengan jahat, baik dibalas dengan baik. Yang luar biasa itu kalau jahat dibalas dengan baik. Setelah dimanfaatkan habis-habisan, tapi masih bisa mengharapkan hal baik terjadi pada orang itu, bisa ga? Tergantung dari cara pikir kita J.

 

Revenge Elegantly

Jangan mau kalah, kalau memang sudah dimanfaatin, ini saatnya untuk balas dendam secara anggun, revenge elegantly! Segera bangkit, jangan kelamaan bersedih, kasih batas waktu mau sedihnya sampe tanggal berapa, jam berapa. Setelah itu? Pikirin gimana caranya memanfaatkan kejadian tersebut supaya bisa berguna buat diri sendiri. Misalnya, supaya kejadian yang sama ga terulang, cari tau kenapa waktu itu bisa sampe dimanfaatin seperti itu. Setelah itu, pelajari ciri-cirinya kalau orang lagi mau manfaatin.

Tunjukkin ke orang tersebut, bahwa walaupun sudah sempat dimanfaatkan dan sakit, tapi justru tidak membuat makin terpuruk. Susun strategi! Susun strategi supaya bisa manfaatin balik. Lho koq? Berarti ini sama aja jahat bales jahat? Nooo, bukan itu maksudnya. Manfaatin balik di sini bukan berarti manfaatin orangnya, tapi memanfaatkan situasi yang ada untuk belajar supaya bisa jadi lebih baik, balas dendam dengan anggun.

Daripada cape-cape mikirin gimana caranya ngebales orang itu supaya bisa merasakan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari yang sudah dialami, lebih baik mikir gimana caranya supaya kejadian yang sama ga keulang lagi.

Daripada membiarkan diri kelamaan terpuruk dalam lembah penyesalan terus sakit, lebih baik ambil tindakan untuk bangkit, jadi bisa nunjukkin ke orang tersebut bahwa “Saya baik-baik saja tuh, walaupun sempat dimanfaatkan habis-habisan, tapi lihat sekarang, justru sekarang Saya jauh lebih baik, terima kasih yah *senyum manis*”

Daripada kelamaan sakit hati, lebih baik memaafkan. Tau ga, menurut penelitian para ahli, sakit hati itu bisa menyebabkan kanker, rugi kan, kalau orang yang nyakitin tersebut sehat, berkeliaran dengan aman dan baik-baik aja, terlepas dia sengaja atau ngga, malah diri sendiri yang kena kanker. Lebih baik memaafkan, biar tetep sehat. Paling ga, orang tersebut ga sukses sukses banget, terus bisa bilang ke orangnya, “Yuhuu! Kamu ga berhasil manfaatin Saya secara total, karena dari kejadian itu Saya belajar untuk bisa memaafkan. Thanks yah!” *wink*

Daripada membiarkan penampilan jadi tidak terawat dan kesehatan menurun karena nyesel abis-abisan udah dimanfaatin, lebih baik perbaiki penampilan supaya lebih menarik misalnya rubah penampilan, make-up, cara berpakaian, olah raga dan makan makanan sehat. “See! Saya jadi makin menarik, cantik, sehat dan sukses!”

 

Setelah “Memanfaatkan Balik”, Apa?

Memaafkan

Wah, sulit ini memaafkan, tapi percaya deh, ga ada ruginya koq memaafkan, malah baik untuk kesehatan. Berikut beberapa hasil reset yang menujukkan hubungan antara memaafkan dengan kesehatan[1]:

“Pekerjaan awal program ini menunjukkan bahwa pengampunan menurunkan hormon stres kortisol yang pada gilirannya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, tapi hanya jika pasien memaafkan yang mereka salahkan”. [Universitas Maryland [Institut Virologi Manusia]

“Memaafkan bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi produksi hormon stres kortisol” [Rockefeller University – New York]

“Ketika Anda memegang kepahitan selama bertahun-tahun, ia menghentikan Anda untuk hidup sepenuhnya. Ternyata, hal itu menghabiskan sistem kekebalan tubuhmu dan menyakiti jantungmu” [Stanford University Pusat Penelitian Pencegahan Penyakit]

“Mereka yang menerima pelatihan pengampunan menunjukkan perbaikan dalam aliran darah ke jantung mereka” [University of Wisconsin – Penelitian Departemen]

Sebuah studi baru dari Duke University Medical Center menunjukkan bahwa mereka yang memaafkan orang lain mengalami tingkat sakit kronis yang lebih rendah dan masalah psikologis, seperti kemarahan dan depresi, yang lebih rendah, daripada mereka yang belum memaafkan.

Para peneliti di Ohio Amerika University menemukan bahwa wanita dengan tingkat stres tinggi memiliki sel-sel pembunuh alami lebih sedikit daripada wanita dengan tingkat stres yang lebih rendah. “Sel pembunuh alami memiliki fungsi sangat penting berkaitan dengan kanker karena mereka mampu mendeteksi dan membunuh sel kanker. Intervensi psikologis, seperti pengampunan, memiliki peran penting dalam mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga dalam memperluas kelangsungan hidup..” [Barbara Andersen, Profesor Psikologi, Ohio State University]

“Saya telah mengumpulkan 57 dokumentasi keajaiban kanker yang sangat baik. Mereka memutuskan bahwa kemarahan dan depresi itu mungkin bukan cara terbaik untuk dijalani, karena mereka tidak punya banyak waktu yang tersisa. Mereka berubah menjadi pengasih, penyayang, tidak lagi marah, tidak lagi tertekan, dan dapat berbicara dengan orang yang mereka cintai. 57 orang ini memiliki pola yang sama. Mereka menyerahkan kemarahan mereka secara total dan mereka menyerahkan secara total depresi mereka, sebuah keputusan spesial. Dan pada saat itu tumor mulai menyusut. ” [Yale Medical School – Dr Bernie Seigel, Profesor Klinik Bedah]

“Ketika saya menyarankan penyembuhan emosional untuk penderita kanker, mereka selalu salah paham. Mereka mendengarnya sebagai dukungan emosional. Mereka berpikir saya hanya ingin menghibur mereka, atau menunjukkan kepada mereka untuk memiliki sikap yang lebih positif. Mereka tidak mengerti bahwa pengampunan mungkin menjadi kunci untuk membuat mereka sembuh. Saya melihat mata mereka berkaca-kaca ketika saya pergi dengan mengatakan bahwa racun emosional kemungkinan besar penyebab kanker mereka. Dan pengampunan itu, jika digunakan dengan perawatan yang tepat dan perubahan gaya hidup dengan tujuan perubahan fisik, adalah pengobatan utama. Ketidakmampuan mereka untuk mendengar ini sebagai strategi untuk bertahan hidup, adalah ukuran bagaimana kita telah dicuci otak sehingga berpikir bahwa pengobatan untuk kanker harus selalu keras, drastis dan kejam. Dengan pola pikir Perang-terhadap-Kanker, sulit untuk membayangkan bahwa sesuatu yang tampaknya lemah lembut seperti pengampunan bisa menjadi jawaban untuk masalah kita. ” [Colin Tipping, Direktur, Institut Pengampunan Radikal]

Mengharapkan Hal-hal Baik Terjadi Untuk Orang Tersebut

Yang ini juga ga kalah sulitnya sama memaafkan, bahkan lebih sulit, mana bisa begitu, ga adil donk! Enak banget, setelah memanfaatkan dan meyakiti, eh masih diharapin supaya hal-hal baik terjadi sama orang tersebut. Sebenernya ga ada untungnya juga untuk diri sendiri kalau sampe hal-hal buruk terjadi pada orang tersebut, hanya kepuasan sesaat, bener ga? Kalau masih mengharapkan hal-hal buruk terjadi pada orang tersebut, artinya memaafkannya belum bener-bener, mau gara-gara ga memaafkan jadi sakit parah? :p

Supaya bisa lebih mudah, ga bilang gampang, tapi lebih mudah, karena memang ini ga gampang, pikirin aja gini, “Orang-orang yang ada sekarang dan pernah ada di jalur hidup Saya, yang baik maupun yang jahat, merupakan bagian dari rencanaNya untuk membuat Saya jadi lebih baik. So, thanks God for putting them on my path, terutama untuk orang-orang yang jahatnya, karena justru mereka itu menciptakan pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan, berharga dan membuat Saya jadi lebih baik.”

So?! Manfaatin balik setelah dimanfaatin? Kenapa ngga 😉

That don’t kill me, can only make me stronger!

Kanye West – Stronger