It’s Complicated

It’s Complicated!

Yup, ga Cuma status relationship aja yang bisa it’s complicated, hidup juga bisa. Saat-saat ini, seperti bom yang meledak, semua jadi satu! Semua ada! Kalau istilah one stop solution, saya, one stop problem, semua karena keegoisan, kebodohan dan kebiasaan tergantung sama manusia.

 

Kejadian sekitar 6 tahun lalu, keulang lagi, keledai aja ga ngulangin kesalahan yang sama sampe 2x. Semua campur aduk, antara takut, sedih, bodoh, nyalahin diri sendiri, semua perasaan negatif jadi satu.  Ada tokoh Alkitab yang masih disayang Tuhan, walaupun ngelakuin kesalahan yang sama berulang-ulang? Siapa?

 

Kalau ada masalah, bisa bilang, “gapapa, ini cara Tuhan untuk buat kamu lebih kuat dan lebih baik”, kalau masalahnya dibuat sendiri? In the pain there is healing, iya itu untuk orang-orang yang ga ngelakuin kesalahan yang sama berkali-kali, gimana dengan saya? Ngelakuin hal yang sama berkali-kali, apa masih bisa? Konsekuensi seperti apa yang saya terima? Lebih berat dari biasanya. Pengampunan memang ada, tapi konsekuensi tetep harus dijalanin, secara sabar dan yakin, Tuhan ga tinggalin saya.

 

Kemarin malam, muncul percakapan seperti ini:

“Kamu sombong Grace!”

“Kenapa?”

“Karena keputusan yang kamu buat, kamu buat keputusan itu karena terlalu yakin sama diri sendiri dan mau nunjukkin ke semua orang kamu bisa, karena kamu sudah diremehkan! Tapi liat diri kamu sendiri, berantakan! Tuhan mau kamu nyerah & pasrah, lepasin semuanya!”

“Apa yang musti dilepasin? Udah ga punya apa-apa lagi..”

“Kesombongan, keegoisan & kebiasaan ngandelin kekuatan manusia, bukan Tuhan”

“Ah Tuhan, lembutkan hati Saya.. Itu yang saya minta.. Rasanya hati ini sudah hancur, bukan jadi kepingan lagi, tapi bubuk..”

 

Ingin untuk jadi lebih baik, tapi setiap kali godaan muncul atau sesuatu yang terlihat lebih enak dibanding proses yang harus dijalanin untuk jadi lebih baik, seperti yang sudah-sudah, tergoda. Bosan rasanya selalu bilang ingin jadi lebih baik, tapi hanya bertahan beberapa waktu, lalu jatuh lagi. Mau sampai kapan?

 

Walaupun tau, Kasih Tuhan ga ada batasnya, tapi tetep pikiran ini mengganggu, “kalau Saya yang ngelakuin kesalahan yang sama berkali-kali, masih berlaku?”

 

Jadi keinget sama Henry Covington, pastor Afrro-America yang bolak-balik kena narkoba, tapi pada akhirnya bener-bener bertobat, tapi hidupnya ga enak. Huff, saya ga mau seperti itu, saya gam au punya hidup yang ga enak setelahnya. Lagi-lagi mau enaknya sendiri lagi, lagi-lagi egois, lagi-lagi ngandelin kekuatan manusia.

 

Beruntung masih ada orang tua, keluarga dan temen-temen yang mau terima & support Saya, walaupun mereka tau, ini terjadi karena keegoisan sendiri. Thanks!

 

Journey begins here..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s