Dimanfaatin? Manfaatin Balik Donk!

untuk  UrbanWomen.org

Biasanya dalam sebuah hubungan Friends with Benefits, akan ada rasa sakit hati, entah dari salah satu pihak atau keduanya, karena didalamnya ada asas manfaat. Nah untuk pihak yang ngerasa dirugikan karena dimanfaatkan, daripada kelamaan sakit hati ato kesel karena uda dimanfaatkan, lebih baik cari cara bagaimana memanfaatkan keadaan yang ada itu untuk membuat diri jadi lebih baik.

 “Enak aja ngarepin dia biar sukses! Mana bisa begitu, udah manfaatin, bikin sakit juga, terus sekarang musti berharap supaya hal baik terjadi sama dia? Ga rela!”

Kira-kira begitu kalimat atau pemikiran yang akan muncul kalau seseorang diminta untuk mengharapkan hal baik terjadi pada seseorang yang udah nyakitin, bener ga? Hayo ngaku! Sebagian besar manusia akan memberikan reaksi seperti itu, termasuk Saya. Sepertinya ga adil, kalau orang yang sudah nyakitin dan manfaatin Saya diharapkan bisa sukses, yang ada Saya malah ngarepin supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu.

Dimanfaatkan seseorang dalam konotasi negatif memang ga enak, maunya ngebales, atau kalau pun ga ngebaes langsung, berharap supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu. Sedangkan kalau ada orang yang berbuat baik, manusia cenderung akan membalasnya dengan kebaikkan.

 

Apa yang Terjadi Setelah Dimanfaatkan Seseorang?

Setelah dimanfaatkan seseorang habis-habisan, kebanyakan manusia akan terpuruk dalam lembah penyesalan, kemarahan, dan kesedihan, terus mikirin gimana ngebalesnya dengan cara yang lebih kejam. Jika sampai hal ini terjadi, yang pasti rugi adalah diri sendiri, mulai dari ga focus sama kerjaan, nafsu makan bertambah atau berkurang sehingga mengganggu bentuk tubuh, pengaruhnya ke kesehatan, parahnya lagi kalau sampe sakit hati, bisa menyebabkan kanker.

Ga mau kan gara-gara satu orang yang nyakitin, malah kena penyakit kanker atau penyakit berat lainnya, rugi! Kalau sampe ini kejadian, artinya, orang yang manfaatinnya sukses banget! Uda berhasil manfaatin, terus berhasil bikin susah juga.

Sudah biasa terjadi, jahat dibalas dengan jahat, baik dibalas dengan baik. Yang luar biasa itu kalau jahat dibalas dengan baik. Setelah dimanfaatkan habis-habisan, tapi masih bisa mengharapkan hal baik terjadi pada orang itu, bisa ga? Tergantung dari cara pikir kita J.

 

Revenge Elegantly

Jangan mau kalah, kalau memang sudah dimanfaatin, ini saatnya untuk balas dendam secara anggun, revenge elegantly! Segera bangkit, jangan kelamaan bersedih, kasih batas waktu mau sedihnya sampe tanggal berapa, jam berapa. Setelah itu? Pikirin gimana caranya memanfaatkan kejadian tersebut supaya bisa berguna buat diri sendiri. Misalnya, supaya kejadian yang sama ga terulang, cari tau kenapa waktu itu bisa sampe dimanfaatin seperti itu. Setelah itu, pelajari ciri-cirinya kalau orang lagi mau manfaatin.

Tunjukkin ke orang tersebut, bahwa walaupun sudah sempat dimanfaatkan dan sakit, tapi justru tidak membuat makin terpuruk. Susun strategi! Susun strategi supaya bisa manfaatin balik. Lho koq? Berarti ini sama aja jahat bales jahat? Nooo, bukan itu maksudnya. Manfaatin balik di sini bukan berarti manfaatin orangnya, tapi memanfaatkan situasi yang ada untuk belajar supaya bisa jadi lebih baik, balas dendam dengan anggun.

Daripada cape-cape mikirin gimana caranya ngebales orang itu supaya bisa merasakan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari yang sudah dialami, lebih baik mikir gimana caranya supaya kejadian yang sama ga keulang lagi.

Daripada membiarkan diri kelamaan terpuruk dalam lembah penyesalan terus sakit, lebih baik ambil tindakan untuk bangkit, jadi bisa nunjukkin ke orang tersebut bahwa “Saya baik-baik saja tuh, walaupun sempat dimanfaatkan habis-habisan, tapi lihat sekarang, justru sekarang Saya jauh lebih baik, terima kasih yah *senyum manis*”

Daripada kelamaan sakit hati, lebih baik memaafkan. Tau ga, menurut penelitian para ahli, sakit hati itu bisa menyebabkan kanker, rugi kan, kalau orang yang nyakitin tersebut sehat, berkeliaran dengan aman dan baik-baik aja, terlepas dia sengaja atau ngga, malah diri sendiri yang kena kanker. Lebih baik memaafkan, biar tetep sehat. Paling ga, orang tersebut ga sukses sukses banget, terus bisa bilang ke orangnya, “Yuhuu! Kamu ga berhasil manfaatin Saya secara total, karena dari kejadian itu Saya belajar untuk bisa memaafkan. Thanks yah!” *wink*

Daripada membiarkan penampilan jadi tidak terawat dan kesehatan menurun karena nyesel abis-abisan udah dimanfaatin, lebih baik perbaiki penampilan supaya lebih menarik misalnya rubah penampilan, make-up, cara berpakaian, olah raga dan makan makanan sehat. “See! Saya jadi makin menarik, cantik, sehat dan sukses!”

 

Setelah “Memanfaatkan Balik”, Apa?

Memaafkan

Wah, sulit ini memaafkan, tapi percaya deh, ga ada ruginya koq memaafkan, malah baik untuk kesehatan. Berikut beberapa hasil reset yang menujukkan hubungan antara memaafkan dengan kesehatan[1]:

“Pekerjaan awal program ini menunjukkan bahwa pengampunan menurunkan hormon stres kortisol yang pada gilirannya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, tapi hanya jika pasien memaafkan yang mereka salahkan”. [Universitas Maryland [Institut Virologi Manusia]

“Memaafkan bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi produksi hormon stres kortisol” [Rockefeller University – New York]

“Ketika Anda memegang kepahitan selama bertahun-tahun, ia menghentikan Anda untuk hidup sepenuhnya. Ternyata, hal itu menghabiskan sistem kekebalan tubuhmu dan menyakiti jantungmu” [Stanford University Pusat Penelitian Pencegahan Penyakit]

“Mereka yang menerima pelatihan pengampunan menunjukkan perbaikan dalam aliran darah ke jantung mereka” [University of Wisconsin – Penelitian Departemen]

Sebuah studi baru dari Duke University Medical Center menunjukkan bahwa mereka yang memaafkan orang lain mengalami tingkat sakit kronis yang lebih rendah dan masalah psikologis, seperti kemarahan dan depresi, yang lebih rendah, daripada mereka yang belum memaafkan.

Para peneliti di Ohio Amerika University menemukan bahwa wanita dengan tingkat stres tinggi memiliki sel-sel pembunuh alami lebih sedikit daripada wanita dengan tingkat stres yang lebih rendah. “Sel pembunuh alami memiliki fungsi sangat penting berkaitan dengan kanker karena mereka mampu mendeteksi dan membunuh sel kanker. Intervensi psikologis, seperti pengampunan, memiliki peran penting dalam mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga dalam memperluas kelangsungan hidup..” [Barbara Andersen, Profesor Psikologi, Ohio State University]

“Saya telah mengumpulkan 57 dokumentasi keajaiban kanker yang sangat baik. Mereka memutuskan bahwa kemarahan dan depresi itu mungkin bukan cara terbaik untuk dijalani, karena mereka tidak punya banyak waktu yang tersisa. Mereka berubah menjadi pengasih, penyayang, tidak lagi marah, tidak lagi tertekan, dan dapat berbicara dengan orang yang mereka cintai. 57 orang ini memiliki pola yang sama. Mereka menyerahkan kemarahan mereka secara total dan mereka menyerahkan secara total depresi mereka, sebuah keputusan spesial. Dan pada saat itu tumor mulai menyusut. ” [Yale Medical School – Dr Bernie Seigel, Profesor Klinik Bedah]

“Ketika saya menyarankan penyembuhan emosional untuk penderita kanker, mereka selalu salah paham. Mereka mendengarnya sebagai dukungan emosional. Mereka berpikir saya hanya ingin menghibur mereka, atau menunjukkan kepada mereka untuk memiliki sikap yang lebih positif. Mereka tidak mengerti bahwa pengampunan mungkin menjadi kunci untuk membuat mereka sembuh. Saya melihat mata mereka berkaca-kaca ketika saya pergi dengan mengatakan bahwa racun emosional kemungkinan besar penyebab kanker mereka. Dan pengampunan itu, jika digunakan dengan perawatan yang tepat dan perubahan gaya hidup dengan tujuan perubahan fisik, adalah pengobatan utama. Ketidakmampuan mereka untuk mendengar ini sebagai strategi untuk bertahan hidup, adalah ukuran bagaimana kita telah dicuci otak sehingga berpikir bahwa pengobatan untuk kanker harus selalu keras, drastis dan kejam. Dengan pola pikir Perang-terhadap-Kanker, sulit untuk membayangkan bahwa sesuatu yang tampaknya lemah lembut seperti pengampunan bisa menjadi jawaban untuk masalah kita. ” [Colin Tipping, Direktur, Institut Pengampunan Radikal]

Mengharapkan Hal-hal Baik Terjadi Untuk Orang Tersebut

Yang ini juga ga kalah sulitnya sama memaafkan, bahkan lebih sulit, mana bisa begitu, ga adil donk! Enak banget, setelah memanfaatkan dan meyakiti, eh masih diharapin supaya hal-hal baik terjadi sama orang tersebut. Sebenernya ga ada untungnya juga untuk diri sendiri kalau sampe hal-hal buruk terjadi pada orang tersebut, hanya kepuasan sesaat, bener ga? Kalau masih mengharapkan hal-hal buruk terjadi pada orang tersebut, artinya memaafkannya belum bener-bener, mau gara-gara ga memaafkan jadi sakit parah? :p

Supaya bisa lebih mudah, ga bilang gampang, tapi lebih mudah, karena memang ini ga gampang, pikirin aja gini, “Orang-orang yang ada sekarang dan pernah ada di jalur hidup Saya, yang baik maupun yang jahat, merupakan bagian dari rencanaNya untuk membuat Saya jadi lebih baik. So, thanks God for putting them on my path, terutama untuk orang-orang yang jahatnya, karena justru mereka itu menciptakan pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan, berharga dan membuat Saya jadi lebih baik.”

So?! Manfaatin balik setelah dimanfaatin? Kenapa ngga 😉

That don’t kill me, can only make me stronger!

Kanye West – Stronger

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s