April 21, 2011

Grc, “Tuhan, ini gimana? I need more money”
Tuhan, “nope! You need more ME”
Grc, “hmmm yυp, but I also need more money”
Tuhan, “ġɑ usa takut, percaya aja”
Grc, “how? Tuhan bilang bersandar, di mana? ɑkυ‎ ġɑ liat ada sandaran” Tuhan, “di sini, di bahuKu”
Grc, “ġɑ keliatan”
Tuhan, “masa? Berarti kamu belom percaya sepenuhnya”
Grc, “huff, ˚‎​☺K˚‎​ Tuhan, coba lagi”

Advertisements

Kuma

Percakapan pagi ini antara mami & Egy:
Egy, “Kuma* itu siapa?”
Mami, “Kakaknya papa”
Egy, “Oh, kaya yang di Happy Holly Kid yah?”*
Mami, “hahahahah”

*Kuma: sebutan untuk kakak perempuan di tradisi Chinese
**di film Happy Holly Kid ada kura-kura, namanya Kuma

Saya Adalah Anak Haram

“Saya adl anak haram,” seorang wanita memperkenalkan diri dlm konferensi mahasiswa sebuah universitas terkenal di AS.
“Ibu saya adl seorang bisu tuli yg sangat miskin. Suatu hr, Ibu saya diperkosa oleh seorang pria, shg saya tdk pernah mengetahui siapa ayah saya. Kami hidup sangat miskin, shg dlm umur yg msh sangat muda, saya hrs bekerja bersama dgn ibu saya sbg buruh kasar dlm sebuah perkebunan kapas. Saya membenci keadaan saya. Oleh krn itu, saya jg kecewa kpd Allah krn Dia tdk adil. Saya tdk dpt memahami mengapa saya hrs dilahirkan di dunia ini sdngkan saya tdk berguna sama sekali.”

Kalimat diatas kedengarannya seperti isi hati kita ketika kita kecewa kepada Tuhan. Tidak diterima oleh sekeliling kita & dicampakkan oleh dunia ini karena latar belakang yang menyedihkan, sehingg kita bertanya-tanya mengapa saya dilahirkan?  Tetapi dengarkan lanjutan kisah wanita tadi. Suatu har isesuatu di dalam hati saya berkata-kata, “Acy, kamu dpt memilih, kamu mau tetap seperti ini atau kamu mau keluar dari rasa tidak berguna ini.  Pilihan ada di tanganmu!”
Akhirnya Acy memilih,  “Saya mau keluar dari rasa tidak berguna ini, saya mau keluar!”

Singkat cerita wanita ini mulai bekerja dengan giat untuk mencari uang demi membiayai sekolah & ibunya. Dia bekerja keras seihngga pada akhirnya dia meraih kesuksesan.
Hari itu, wanita yang mulanya memperkenalkan diri sebagai seorang anak haram, berdiri di hadapan para mahasiswa universitas terkenal itu untuk membuktikan KEKUATAN DARI SEBUAH PILIHAN, & kini dia juga tahu bahwa Tuhan sangat mengasihinya.

Dia adalah Azie Taylor Morton, Menteri Keuangan AS!

Apapun keadaan kita saat ini, jangan pernah menyesali & jangan pernah kecewa kepada Tuhan. Dia adalah Allah yang selalu memberikan masa depan indah & keberhasilan kepada kita, asal kita mau memilih hal-hal yang benar & keputusan yang benar dalam hidup ini.

 

Malaikat-malaikat di Seminole

Pada bulan Juli 2002, Deborah bangun dan mendapati tiga anak yang sangat kelaparan. Hanya ada uang $2.23 di dompetnya. Malam sebelumnya suaminya meninggalkan dia dan anak-anak, bersumpah tidak akan embali lagi. Anak-anak itu, dua laki-laki dan satu perempuan, berumur empat tahun, dua tahun, dan limabulan.

Sebelum akhirnya pergi, lelaki itu (suaminya dan ayah anak-anaknya) sudah sangat jarang berada di rumah. Jika dia sedang di rumah, mereka semua takut kepadanya. Bagitu mendengar suaranya, dua anak laki-lakiya langsung bersembunyi di kolong tempat tidur dan si bayi perempuan langsung menangis menjerit-jerit.

Ketika suaminya memutuskan pergi dan tidak akan kembali, Deborah merasa lega karena dia dan anak-anaknya tidak akan menjadi sasaran kekerasan lagi. Tetapi, sekarang dia tidak punya apa-apa untuk memberi makan, pakaian dan naungan bagi anak-anaknya. Dia harus mencari nafkah, pengganti pendapatan suaminya yang selama ini pun sangat sedikit. Dia menemukan uang $20 di saku kemeja yang ditinggalkan suaminya. Yang pertama terlintas di pikirannya adalah membeli makanan untuk anak-anaknya.

Dia membeli sandwich telur, menyuruh mereka makan, memandikan mereka, mengenakan pakaian terbaik mereka, lalu dengan mobil Dodge 1979 yang sudah tua dan karatan membwa mereka menyusuri jalan-jalan di Seminole, Oklahoma, untuk mencari pekerjaan. Mereka mendatangi setiap pabrik, restoran dan toko di kota kecil itu, tanpa hasil. Anak-anak keluar masuk mobil bersama ibu mereka. Menjelang tengah hari, mereka lapar dan kecapekan. Mendengar tangis lapar anak-anaknya, Deborah berdoa kepada Tuhan, memohon pertolongan agar mendapat pekerjaan untuk menghidupi keluarganya.

Satu tempat yang belum dia datangi adalah Restoran Sonic. Manajernya seorang wanita tua, penduduk asli Amerika. Grandma Harjo, begitu dia biasa dipanggil, membutuhkan orang yang sanggup bekerja dari jam empat sore sampai jam sebeleas malam. Dia menawarkan upah awal $5.5 per jam. Deborah boleh mulai bekerja malam itu juga.

Dengan penuh semangat, Deborah membeli makanan untuk dirinya dan anak-anaknya di Restoran Sonic, kemudian bergegas menyiapkan diri untu melakukan pekerjaan pertamanya sejak dia lulus SMA. Dia pergi ke rumah kawannya yang tak jauh dari rumahnya, untuk bertanya apakah anak kawannya mau menolong menjaga anak-anaknya. Gadis empat belas tahun itu bersedia. Malam itu, Deborah dan anakanaknya berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas karunia yanhg mereka terima hari itu.

Minggu demi minggu berlalu, musim panas berganti musim gugur, kemudian datang musim dingin. Tagihan listrik untuk pemanas memberatkan pengeluaran Deborah yang pas-pasan. Mobil Dodge tuanya perlu ban baru, alat pemanas, dang anti oli. Suatu hari, kecapekan sepulang kerja dan kelelahan memikirkan mobil tuanya dan kesejahteraan anak-anaknya, Deborah membuka pintu mobilnya. Di dalamnya dia menemukan empat ban baru dan sebuah amplop abu-abu berisi cukup uang untuk membeli alat pemanas agar mobilnya tetap bisa berfungsi di musim dingin. Deborah sangat takjub dan bersyukur akan nasib baiknya. Tak ada tulisan apa pun di amplop itu. Tak ada petunjuk, siapa penolongnya.

Deborah pergi ke bengkel mobil. Dia berikan semua uang di amplop itu kepada pemilik bengkel. Sebagai ganti ongkos mengganti ban dan memasang alat pemanas di mobilna, dia menawarkan membersihkan kantor pemilik bengkel.

Hampir enam bulan dia bekerja di Restoran Sonic, enam hari per minggu, dengan upah yang hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Hari Natal hampir tiba. Seorang teman kerjanya memberitahu bahwa Gereja Katolik Saint Benedict di Shawnee menyediakan makanan dan hadiah Natal bagi keluarga tidak mampu.

Deborah pergi ke Shwanee, menempuh perjalanan sejauh tujuh belas mil. Pastor Maurus, pastor Gereja Saint Benedict, memberinya pakaian, makanan, dan mainan untuk anak-anaknya. Deborah merasa lega. Dia bersyukur kepada Tuhan dan segera kembali ke Seminole. Dia harus menyembunyikan hadiah-hadiah itu karena Natal masih beberapa hari lagi.

Pada malam Natal, beberapa pelanggan Restoran Sonic datang untuk merayakan hari istimewa itu sebelum restoran tutup sepanjang liburan Natal. Orang-orang yang sudah dikenal Deborah memesan berbagai masakan. Setelah selesai makan, mereka membayar dan memberikan semua uang kembalian sebagai hadiah Natal untuknya. Di antara para pelanggan ada Pastor Basil Keenan, pastor Gereja Immaculate Conception di Seminole, warga paroki gereja-gereja lain, anggota Seminole American Legion, dan pegawai Seminole State College.

Seperti biasa, menjelang tengah malam Deborah bersiap untuk meninggalkan resotran. Dia sangat lelah setelah melayani begitu banyak tamu restoran di Malam Natal. Dia berharap masih punya tenaga untuk menghias pohon Natal dan memindahkan hadiah-hadiah dari Gereja Saint Benedict dari gudang bawah tanah ke ruang tamunya yang kecil.

Suasana langsung gelap ketika lampu di dalam restoran dia padamkan. Deborah berjalan ke mobilnya. Begitu dia membuka pintuk mobil, sebuah kotak yang terbungkus rapi terguling jatuh, menimpa kaki kanannya. Dengan mata terbelalak, dia melihal mobil Dodge 1979 karatan itu penuh berisi hadiah yang terbungkus dalam kotak-kotak aneka ukuran. Dinyalakannya lampu mobil dan tampaklah celana jins, blus dan kemeja, sepatu, pakaian hangat untuk anak-anak. Secari pesan menyruhnya membuka bagasi mobil. Pelan dia keluar dari mobil, berjalan ke belakang, membuka bagasi, dan menemukan kotak-kotak berisi makanan, daging, ham beku, makanan kaleng, roti tawar, sayuran segar, permen Natal, kue pai, cake buah, dan banyak lagi. Mungkin cukup untuk satu bulan. Dia berdiri takjub, matanya berkaca-kaca. Sambil mengemudikan mobilnya sejauh lima mil ke rumahnya, dia mengucap doa syukur kepada Tuhan karena kebaikan teman-temannya dan orang-orang yang tak dia kenal.

Sambil memandangi matahari terbit di langit timur Oklahoma pada pagi Hari Natal dan menyimak tawa riang ketiga anaknya, Deborah Meeks menyimpan kenangan indah akan orang-orang Seminola , Oklahoma, yang baik hati. Tanpa ragu dia akan berkata bahwa mereka semua adalah malaikat yang tinggal di Seminole, Oklahoma, Amerika Serikat!

Stephen A. Peterson

Egy – Mungil

Jakarta, 12 Nov 2011, 12:08

Siang2, di rmh, lġ nyuapin Egy, manggil Egy dengan sebutan “Mungil”.

Grc, “Buruan Mungil”
Egy, “Egy kɑn u‎dɑ ġɑ bs dipanggil Mungil lagi, u‎dɑ mɑυ‎ SD”
Grc, “Tapi Egy kɑn belom SD”
Egy, “Yɑ tapi kɑn u‎dɑ mɑυ‎ SD..”